Kenapa Ribut Sesama Aceh…?

0
6971

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Laga Persiraja Banda Aceh vs PSAP Sigli berlangsung di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Selasa (30/3) sore berakhir rusuh. Pendukung kedua kubu sempat adu fisik dan saling lempar. Tiga bocah luka-luka.

Laga ‘derby’ adalah ajang penuh gengsi. Ingin menjadi yang terbaik di daerah sendiri adalah sesuatu yang ingin dipersembahkan para pemain. Tak pelak, tiap ‘derby’ pasti berlangsung panas, bahkan berujung ricuh.

Inilah yang menodai stadion terbesar di Aceh petang tadi. Laga belum usai, bibit kericuhan sudah tercium dari gelagat suporter. Berawal di tribun C, tempat pendukung fanati Persiraja, SKULL dan sporter PSAP Laskar Aneuk Nangroe bersorak sorai, di pertengahan babak pertama. Kedua kelompok penonton dibatasi pagar tribun.

Sorakan mulai mengarah kepada saling ejek, berlanjut saling lempar. Laga di lapangan pun sempat terhenti beberapa saat akibat ulah suporter. Aksi ini menimbulkan korban tiga bocah. Ketiganya dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka terkena lemparan batu antar pendukung. Salah satu diantara mereka bernama Aulia, warga Ateuk Jawo, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Reda sesaat. Di lapangan pun skor masih imbang; 0-0. Memasuki babak kedua, ulah kedua suporter kembali menyorot perhatian penonton lainnya. Saling lempar kembai terjadi.

Puncaknya, saat wasit mengkartu merahkan Muhammad Ali, pemain PSAP, karena mengganjal keras Mukhlis, gelandang Persiraja. Protes pengurus PSAP mengalir ke wasit Hadi Suroso, asal Semarang, Jawa Tengah.

Di tribun, pendukung kedua tim ternyata tak tinggal diam. Saling lempar dan ejek kembali terjadi, hingga ada yang berupaya masuk ke lapangan dan ingin tawuran secara fisik. Polisi menghalau.

Celakanya, kondisi rusuh itu mengalir ke tribun B, yang bersebelahan dengan tribun C. Dalam sekejap, satu stadion itu memanas. Aparat keamanan pun kerepotan melerai. Di sini belum kelar, di titik lainnya sudah tegang lagi.

Situasi tak memungkinkan, memaksa panitia mengakhiri laga tanpa pemenang, skor 0-0.

Ternyata itu tak membuat suporter diam. Kericuhan masih terus berlangsung. Bahkan saat keluar stadion, kedua tim masih terlibat saling lempar. Polisi menyita sejumlah balok dan linggis dari para pendukung kedua tim.

Kericuhan saat laga derby Persiraja vs PSAP ini adalah kali kedua dalam musim ini. Sebelumnya, pada pertandingan awal Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Kuta Asan, Sigli 25 November 2009, juga berakhir ricuh, skor kacamata.

Pemicunya saat itu adalah ketidak tegasan inspektur pertandingan Surya Bakti, sehingga menyulut amarah penonton. Juga ada korban kritis dan harus dirujuk ke RSU Zainal Abidin Banda Aceh karena dipukul oleh Polisi. Komisi disiplin kemudian menjatuhkan denda, laga Persiraja vs PSAP digelar di Stadion Cot Gapu, markas PSSB Bireun tanpa penonton.

Bergerak dari pengalaman buruk itu, dua hari sebelum pertandingan sore tadi, kedua kesebelasan sudah komit bermain damai. Pelatih Persiraja Anwar dan arsitek PSAP Bambang Nurdiansyah alias Banur, sepakat agar suporter kedua tim tak rusuh.

Tapi, petang yang mendung. Semua berkata lain. Kedua suporter hanya mengandalkan emosi. Semuanya berakhir tanpa hasil, tak ada yang menang, rusuh dan melukai tiga bocah yang tak berdosa, yang hanya datang untuk menikmati laga.

“Kenapa sesama orang Aceh, sama-sama orang Islam bisa rebut..?” pernyataan itu mengalir dari lelaki asal Papua. Arifin Genuni, yang tak lain pemain PSAP. Ia ikut berlaga dalam lagi ‘derby’ itu. “Saya malu,” katanya.

“Ini sepakbola, zaman sudah 2010. Kenapa kita masih otot, ga pake otak. Otak di sini (dia menunjuk kepalanya) bukan di sini (dia menunjuk dengkulnya),” ujarnya. “Kenapa kita menaruk otak di sini (dengkul) bukan di sini (kepala).”

Sepak bola, kata dia, adalah seni. “Kita tidak perlu rebut di sini,” ujarnya. Andai semua kita sepaham dengan kalimat ‘sepakbola adalah seni’, mungkin sepakbola Indonesia akan lebih maju.[]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.