Kekerasan Jelang Pemilu, Gubernur: Ada Provokator

0
923

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM — Persaingan dua partai lokal, Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh, ditengarai dimanfaatkan oleh pihak lain untuk mengacaukan stabilitas keamanan menjelang pemilihan umum di Aceh. Gubernur Aceh Zaini Abdullah menilai ada provokator yang sengaja memanfaatkan rivalitas kedua partai lokal tersebut.

Gubernur Zaini menyebutkan, persaingan Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh yang dibentuk oleh bekas pentolan Gerakan Aceh Merdeka kini tengah menjadi sorotan. Apalagi terjadi jika terjadi gesekan antara kedua partai lokal tersebut. Persaingan itu, kata Gubernur, acap digunakan oleh pihak lain untuk mengacaukan proses demokrasi yang tengah berlangsung di Aceh.

“Tentu ada pemain lain di belakang itu untuk membuat kekacauan,” kata Zaini usai rapat koordinasi Forum Pimpinan Daerah di Pendopo Gubernur Aceh, Jumat (4/4/2014) pagi.

Zaini meminta agar masyarakat tidak terpancing dengan aksi para provokator yang ingin mengusik perdamaian Aceh.

Seperti diketahui, massa pendukung Partai Aceh dan Partai Nasional Aceh kerap bersinggungan di lapangan, terutama pada masa kampanye ini.

Berikan Rasa Aman
Sementara itu, Wali Nanggroe Malik Mahmud meminta semua kalangan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat Aceh sehingga mereka tidak takut dalam menentukan pilihannya.

“Yang terpenting adalah pelaksanaan pesta demokrasi ini harus mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi seluruh masyarakat Aceh. Pemilu tidak boleh menyebabkan masyarakat takut dan tertekan saat hadir ke tempat pemungutan suara untuk menentukan pilihannya,” kata Malik Mahmud kepada wartawan di Banda Aceh.

Ia mengajak semua komponen masyarakat Aceh untuk menjaga dan memperkuat perdamaian. “Pemilu menjadi tidak bermakna kalau sampai perdamaian dan kedamaian yang sedang kita rasakan terusik,” ujar mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka itu. “Berikan rasa aman dan kenyamanan, sehingga masyarakat bisa bebas beraktivitas, beribadah, dan mencari nafkah.”

Kontestan pemilu juga diminta untuk tidak merusak tatanan sosial dan adat istiadat masyarakat Aceh yang islami dan cinta damai hanya karena perhelatan pemilu.

“Tradisi Aceh yang saling menghargai, menjaga persaudaraan, saling bersilaturrahim, tidak boleh lekang hanya gara-gara pemilu,” ujar Ketua Majelis Adat Aceh Badruzzaman Ismail. “Tameujroh-jroh sabee keudroe-droe ta peugoet nanggroe beu seujahtera.”

Hal senada juga dikemukakan Ketua MPD Aceh, Warul Walidin Ak. “Pemilu harus bisa memberikan edukasi politik bagi masyarakat Aceh dalam menata sistem demokrasi ke arah yang baik,” katanya.  []

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.