Wednesday, April 1, 2020

Jelang Kenduri Kebangsaan, Yayasan Sukma Gelar Seminar Keacehan di Unsyiah

Must Read

Rapat Dewan Adat JKMA Aceh Hasilkan 7 Rekomendasi

Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh menggelar Rapat Dewan Adat dan Musyawarah Kerja JKMA Aceh Tahun 2020 di Banda...

Pemancing Senja

Warga memancing ikan di sungai Babah Dua Kecamatan Jaya, Aceh Jaya. Saban sore, warga memancing di kawasan itu untuk...

Bireuen Juara Galah

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Tim galah putra Bireuen berhasil meraih juara pertama, setelah mengalahkan Simeulue dengan skor 16-9...

CITIZEN | Dua Momen Peringatan Tsunami Aceh

TANGGAL 22 Desember 2011, ada dua momen yang dilaksanakan berbarengan dengan peringatan tujuh tahun tsunami Aceh, yang pertama adalah...

Yayasan Sukma Bangsa bersama Forbes Anggota DPR dan DPD RI asal Aceh dan Universitas Syiah Kuala menggelar seminar Keacehan bertema ‘Kearifan Masa Lalu Kejayaan Masa Depan’, bertempat di aula lantai 3 Gedung FKIP Unsyiah, Banda Aceh, Sabtu (15/2/2020). Seminar tersebut merupakan rangkaian pre-event Kenduri Kebangsaan yang bakal digelar di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen pada 22 Februari 2020 mendatang.

Seminar yang dimoderatori Yarmen Dinamika, menghadirkan empat pemateri yang merupakan pakar sejarah dan akademisi Unsyiah, terdiri dari DR Qismullah Yusuf, Mawardi Umar MA, DR Syaifullah Muhammad dan DR Alfi Rahman. Seminar pre-event Kenduri Kebangsaan digelar untuk memperoleh ide-ide serta masukan yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah untuk membangun Aceh di masa depan. Diharapkan dengan berbagai kejadian masa lalu, Aceh ke depan bisa bangkit untuk mengembalikan kejayaan di masa mendatang.

Peniliti Sejarah Aceh, Mawardi Umar menyebutkan, kemiskinan di Aceh sangat ironi di bumi yang memiliki hasil kekayaan alam melimpah dan tanah yang subur. Apalagi Aceh pernah berjaya pada masa Kesultanan Iskandar Muda.

“Aceh pernah menjadi salah satu kesultanan Islam yang paling sukses di Nusantara, baik di bidang politik, ekonomi dan intelektual,” sebutnya.

Menurut Mawardi, pada abad ke-17, Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi terkuat di bagian barat Nusantara yang mampu membendung perkembangan kolonial Portugis.

“Keungulan yang dimiliki Aceh tersebut perlahan mengalami kemunduran yang diawali masuknya kolonial Belanda hingga terjadi pelawanan puluhan tahun. Hampir seluruh infrastruktur ekonomi hancur dan sosial budaya mengalami kemunduran,” kata dia.

Mawardi menilai, kejayaan masa lalu Aceh tidak terlepas dari kecerdasan rakyat Aceh yang saat itu memanfaatkan keuntungan posisi geografis Aceh sebagai pintu masuk Selat Malaka yang sangat penting peranananya sebagai jalur pelayaran internasional.

“Aceh saat itu tidak hanya sebagai pusat pemerintah yang kuat, namun juga menjadi pusat perdagangan dan peradaban,” ujar Mawardi.

Hal senada juga disampaikan Qismullah Yusuf, staf pengajar Ilmu Sejarah di Unsyiah. Menurutnya, Aceh masa lampau juga telah melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara di Eropa seperti Inggris, Turki dan Belanda.

“Pada abad 16-17, Kesulatanan Aceh mengirim empat orang utusannya ke Belanda yang dipimpin Tuanku Abdul Hamid untuk mengakui kedaulatan Belanda setelah bebas dari Spanyol. Akhirnya, pada 10 Agustus 1602, Tuanku Abdul Hamidi meninggal di Amsterdam,” sebut Qismullah.

Di sisi lain, kekayaan alam Aceh seperti pala, cengkeh, kopi gayo dan nilam juga salah satu komoditi yang berpeluang mengembalikan Aceh pada kejayaan di masa mendatang seperti di masa kesulatanan Aceh lampau.

“Nilam salah satu komoditi unggul yang dapat diolah seperti minyak wangi yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi untuk diekspor,” kata Syaifullah Muhammad, Kepala Pusat Atsiri Research Center (ARC) Unsyiah.

Sementara itu, Peneliti Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah, Alfi Rahman mengatakan, keruntuhan kejayaan Aceh selain akibat masuknya kolonialisme Belanda,juga akibat faktor bencana alam gempa dan tsunami.

Hasil penelitian di Gua Ek Leuntie, Aceh Besar, peneliti menemukan tsunami 26 Desember 2004 silam bukan yang pertama kalinya terjadi di Aceh. Namun, tsunami pernah terjadi di Aceh ratusan tahun sebelumnya. Seperti di Kepulauan Simeulue, pengetahuan masyarakat lokal menyebutkan dengan istilah Smong.

“Kisah Smong salah satu budaya lokal masyarakat Simeulue yang disebut nafi-nafi atau cerita tutur tentang kisah masa lalu yang masih dilestarikan,” jelas Alfi.

Kenduri Kebangsaan di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen dijadwalkan akan dihadiri Presiden Joko Widodo. Selain itu, direncanakan juga bakal turut dihadiri 11 menteri Kabinet Indonesia Maju.[RIL]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis...

Ruang Outbreak Pinere RSUDZA Dijadikan Tempat Isolasi Pasien COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - RSUDZA Banda Aceh telah memiliki 12 ruang Outbreak Pinere (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) pada Selasa (31/3/2020). Ke-12 ruang...

Update Corona di Aceh: 5 Positif, 2 Meninggal, 44 PDP, 797 ODP

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona di Aceh bertambah 177 orang menjadi 797 orang per Selasa (31/3/2020) pukul 15.00...

Cegah Corona, Masjid Raya Baiturrahman Disemprot Disinfektan Sebelum Salat Jumat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Enam belas personel gabungan dari unit KBR (kimia, biologi, radio aktif) Detasemen Gegana Satuan Brimob Kepolisian Daerah Aceh dan...

Cegah Penyebaran Corona, Arab Saudi Hentikan Shalat Berjamaah di Masjid

RIYADH – ACEHKITA.COM – Pemerintah Arab Saudi, hari Selasa waktu setempat (Rabu dini hari WIB), menghentikan sementara pelaksanaan shalat berjamaah di semua masjid negara...

More Articles Like This