Friday, April 3, 2020

Jejak Syiah di Budaya Aceh

Must Read

Duh, Polwan Ini Nyaris Diperkosa Oknum TNI

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Seorang personel Polisi Wanita yang bertugas di Banda Aceh nyaris saja menjadi korban pemerkosaan...

Bunga Bangkai Subur di Subulussalam

Subulussalam – Bunga bangkai atau amorphophallus titanum yang belum mekar ditemukan di kawasan hutan yang berada di pinggir sungai...

Ini Alamat Peunayong di Skandal Mirip Panama Papers

BANDA ACEH -- Panama Papers menghebohkan dunia. Sebanyak 11,6 juta dokumen milik Mossack Fonseca bocor. Skandal ini dibongkar International...

Foto-foto Pascabanjir Beureuneut

Warga membersihkan lumpur di dalam rumah yang tergenang banjir di Desa Beureuneut, Kecamatan Seulomuem, Aceh Besar, Kamis (3/1/2013). Banjir...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

Hasan ngon Husen Cucoe di Nabi (Hasan dan Husain cucu Nabi)
Aneuk Bak Siti Fatimah Zuhra (Anak dari Siti Fatimah Zuhra)
Syahid di Husen teuma dalam prang (Syahid Husen di dalam perang)
Syahid di Hasan inong brie tuba (Syahid Hasan diracun istri)

PENGGALAN lirik lagu Aceh yang dipopulerkan penyanyi Rafly ini tentu tak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Lagu itu antara lain berkisah tentang pembantaian Husain bin Ali akibat perebutan kekuasaan pendukung Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua Bani Umayyah, dengan pengikut Husain yang menentang Yazid naik ke kursi kekhalifahan.

Peristiwa pembantaian ini dikenal sebagai tragedi Karbala (Asyura) yang kerap diperingati kaum Syiah dengan memukul-mukul tubuh sebagai bentuk perkabungan atas terbunuhnya Husain, cucu Nabi Muhammad Saw, itu.

Lagu yang disenandungkan Rafly itu sebenarnya bukan sepenuhnya milik Rafly. Sebab jauh sebelum lagu itu populer sekitar tahun 2000, hikayat tentang kisah Hasan dan Husain telah lebih dulu ada dan didendangkan dari telinga ke telinga masyarakat Aceh. Rafly sendiri mengakui hal itu.

“Saya sudah mendengarnya dari zaman dahulu, dan memang itu dibacakan oleh orang tua di kampung-kampung, saya terinspirasi untuk menjadikannya lagu,” katanya Rabu, 29 Agustus 2012.

Dalam sebuah artikel berjudul Jejak Syiah dan Tradisi Asyura di Aceh, yang ditulis oleh bekas Menteri Negara Urusan Hak Asasi Manusia Kabinet Persatuan Nasional, alhmarhum Hasballah M. Saad, disebutkan bahwa hikayat Hasan Husen ditulis oleh Muhammad Hanafiah.

Dalam artikel itu, Hasballah M. Saad juga menyebutkan dalam beberapa kesenian Aceh seperti tari Seudati dan Saman terdapat simbol kebudayaan muslim beraliran Syiah di Aceh. Simbol itu seperti memukul-mukul dada sendiri, yang dilakonkan oleh para penari Saman.

Masyarakat Aceh juga mengenal tradisi peringatan hari Asyura. Peringatan hari pembantaian Hasan-Husain itu tak diperingati secara besar-besaran layaknya maulid Nabi dengan khanduri raya di Aceh. Pada hari Asyura sebagian warga Aceh berpuasa satu sampai tiga hari dan ada juga tradisi membagi-bagikan bubur beras kepada sesama jiran. Biasanya hanya mereka yang berkecukupan yang membagikan bubur Asyura.

Tapi menurut seorang tokoh muda di Aceh, Ustad Andi Mahdi, adanya simbol dan tradisi perayaan hari Asyura di Aceh belum bisa dijadikan patokan apakah Syiah pernah berkembang pesat pada masa lampau di Aceh. Perlu penelitian dan analisis lebih lanjut dari pakar sejarah Aceh terkait hal itu.

“Karya-karya itu perlu ditelaah, dikaji kembali dan dianalisis kembali sehingga didapat pendeskripsian yang jelas, dan setelah itu baru bisa terbukti bahwa pernah ada Syiah di Aceh atau tidak,” ujarnya.

Begitu pula peringatan hari Asyura di Aceh. Menurut Andi Mahdi, apa yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dengan menggelar peringatan hari Hasan-Husain itu merupakan bentuk pemuliaan terhadap keluarga Nabi Muhammad dan bukan menunjukan bahwa Syiah lebih dominan atau telah mempengaruhi budaya Aceh.

“Sebenarnya peringatan hari Asyura atau hari Al Husen itu bukan hanya milik orang Syiah, tapi juga milik umat muslim secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Andi, masyarakat Aceh tidak pernah membeda-bedakan dan mengelompokkan Sunni dan Syiah. Aceh yang terkenal sangat heterogen yang memiliki beragam suku dan adat budayanya, tidak mengkotak-kotakan kaum muslimin.

Apalagi kata Andi, yang dilakukan Sunni dan Syiah sama yaitu tetap menjalankan Shalat lima waktu sehari semalam dengan 17 rakaat dan berpedoman pada Al-quran dan hadist. Perbedaannya hanya pada soal imam.

“Antisyiah dan pendiskreditan Syiah itu tidak berjalan dengan baik di Aceh. Saat berkumpul dan berbaur juga tidak ada permasalahan tanpa harus menyingung satu sama lainnya, jadi memang masyarakat Aceh sudah sangat kompak jadi tidak ada lagi permasalahan mana yang Syiah, mana yang Sunni di Aceh,” katanya.

Karena itu pula, kata Andi, tak ada pendataan berapa jumlah penganut Syiah di Aceh. Kaum Syiah dan Sunni di Aceh dapat berbaur dengan baik dan tidak ada kelompok yang dieksklusifkan.

“Upaya-upaya kelompok yang datang dari Jawa untuk mendiskreditkan Syiah di Aceh itu tidak bisa masuk terlalu dalam, mental begitu saja karena masyarakat Aceh cukup beradab,” ujarnya.

Berita pertentangan antara Sunni dan Syiah menjadi isu terhangat selama sepekan setelah adanya penyerangan dan pembakaran rumah yang dialami penganut Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, pada Minggu 26 Agustus 2012. Delapan bulan sebelumnya yaitu pada Kamis, 29 September 2011, aksi pembakaran pondok pesanten Syiah juga terjadi di Sampang.

Sejumlah tokoh lewat media nasional menyebutkan kasus Sampang tak dapat dikaitkan dengan pertentangan Sunni-Syiah. Ada persoalan keluarga dan perebutan wanita antara dua pimpinan pondok pesantren di Sampang, sehingga berbuntut pada penyerangan.

Menurut Andi Mahdi, banyak sudah upaya-upaya pihak ketiga untuk memecah belah kaum muslimin. Padahal kata Andi dalam kesepakatan seluruh ulama dunia pada tahun 2006 lalu yang kemudian di tuangkan dalam Piagam Yaman, bahwa Syiah dan Sunni adalah ajaran Islam yang tidak boleh dipisahkan.

“Bahwa perbedaan yang ada adalah sebuah rahmat, yang juga telah dinyatakan oleh Allah dalam Al-Quran. Perbedaan itu jangan kemudian dijadikan pertentangan yang kemudian menjadi perpecahan,” ujar Andi.

Berkaca pada kasus penyerangan penganut Syiah di Sampang, Andi menyebutkan ada upaya pihak ketiga yang ingin memecah belah kaum muslimin di tanah air lewat perbedaan mazhab ini. Upaya itu telah lama muncul tidak hanya di Indonesia.

“Kalau saya boleh jujur, orang-orang yang membakar, orang orang yang membunuh itu sebetulnya mereka itu juga korban. Korban dari kesalahan informasi dan penghasutan,” ujarnya.

Tak ada pengelompokan Sunni dan Syiah di Aceh juga dibenarkan oleh Reza Idria, salah seorang pengajar di Insitut Agama Islam Negeri IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Menurut Reza, dari catatan para petualang yang mengunjungi kesultanan Aceh pada zaman keemasan antara abad ke 16 dan 17 menyebutkan bahwa memang tradisi Syiah menjadi ritual upacara resmi kerajaan Aceh.

“Selanjutnya ada pergeseran mazhab yang merupakan efek dari pergesekan politik di dunia Islam sendiri dan masuknya ulama-ulama yang bukan Syiah ke Aceh, sehingga pelan-pelan itikad Syiah berganti Sunni,” kata alumni Leiden Universty Belanda ini.

Lantas apakah kemudian Syiah dibasmi di Aceh? Kata Reza, sebuah petunjuk jelas tentang kearifan Ulama Aceh terdahulu dalam melihat persoalan konflik politik cikal-bakal Sunni-Syiah di awal-awal Islam tumbuh, tergambar juga dalam Hikyat Hasan-Husen yang ditulis Muhammad Hanafiyah, yang sempat disalinnya dari perpustakaan Leiden University. Penggalannya seperti ini:

Meupakat ulama dumna Syiah (Berembuklah seluruh Ulama Syiah)
Meunoe neupeugah kalam calitra (Seperti inilah diceritakan)
Saydina Ali ngon Muawiyah (Syaidina Ali dan Muawiyah)
Nibak Allah pangkat beusa (Di hadapan Allah harus sama pangkatnya)

Soe yang ceureuca dua ureung nyan (Siapa saja yang menghina keduanya)
Nibak Tuhan keunong neureuka (Diganjar Allah dengan neraka)

Miseu Yazid aneuk Muawiyah (Walaupun Yazid anaknya Muawiyah)
Peulara lidah wahe ceedara (Jagalah lidah wahai saudara)
Bek keutakheun Yazid kaphe (Jangan kafirkan Yazid)
Hana dali yang peusisa (Tiada dalil yang menyatakannya)

Hana hadih nibak nabi (Tiada hadist dari Nabi)
Hana dali kheun rabbona (Tiada firman dari Allah).[]

6 COMMENTS

  1. Waspadalah Waspadalah !!
    Buku-buku Syiah ini
    Menyesatkan & Melecehkan Sahabat Nabi. Bukti kesesatan Syiah yang mengkultuskan Ali, mencela istri dan para sahabat
    Nabi Saw selain Ali ra, bisa dilihat dari buku-buku yang diterbitkan dari kalangan Syiah itu sendiri.
    Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
    dan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI)
    berhasil menghimpunnya.
    Beberapa buku-buku kesesatan Syiah yang
    melecehkan sahabat Nabi Saw itu adalah buku berjudul:
    1. “Kecuali Ali” (cetakan pertama: Rajab 1430/Juli
    2009) Karya Abbas Rais Karmani, terbitan Daftare
    Tablighat, Iran yang kemudian diterjemahkan oleh
    Penerbit Al-Huda.
    2. “Antologi Islam: Risalah Islam Tematis dari
    Keluarga Nabi” (cetakan I tahun 2005, Cetakan II
    2007, Cetakan III 2012), Penerbit Al-Huda.
    3. “ The Shia: Mazhab Syiah, Asal-usul dan
    Keyakinannya” (Cetakan I tahun 2008), karya
    Hashim Al-Musawi, Penerbit Lentera.
    4. “40 Masalah Syiah”, karya Emilia Renita AZ,
    Penerbit IJABI.
    5. “Dialog Sunnah-Syiah”, karya Syarafuddin Al-
    Musawi (Cetakan I tahun 2008), Penerbit Mizan.
    6. Fiqih Ja’fari, Muhammad Jawad Mughniyah
    7. “Mafatif al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid I
    (Cetakan ke-2 tahun 2009), karya Syekh Abbas Al-
    Qummi, Penerbit Alhuda.
    8. “560 Hadis dari 14 Manusia”, Fatif Guven, Penerbit Yayasan Islam Al-Baqir Bangil, cetakan I
    tahun 1995. 9. Doa Laknat untuk Sahabat-sahabat Nabi Saw,
    khususnya Mu’awiyah, Abu Bakar dan Umar ra.
    Ada beberapa point yang menjadi catatan LPPI dalam
    buku-buku yang diterbitkan oleh kalangan Syiah.
    Diantara ajaran sesatnya adalah:
    1. Menyimpangkan tafsir Al Qur’an.
    2. Memandang Wajah Ali adalah Ibadah.
    3. Alam Diciptakan setelah penciptaan 14 Imam Suci.
    4. 14 Imam Suci lebih dulu bertasbih dan mensucikan
    Allah Swt.
    5. 14 Imam Suci lebih hebat dari malaikat.
    6. 14 Imam suci sebagai perantara para malaikat
    menerima hidayah Allah Swt.
    7. Malaikat Jibril diajari oleh Ali as.
    8. Keagungan Ali as akan nampak di hari kiamat.
    9. Ali adalah penghitung amal perbuatan manusia di
    hari kiamat.
    10. Ali akan mengazab penduduk neraka.
    11. Ali adalah hakim di hari kiamat.
    12. Api neraka taat kepada Ali. 13. Yang dimaksud ulil amri adalah Ali as. 14. Menyelewengkan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an
    15. Doa Nudbah adalah untuk Ali as.
    16. Makna ayat “telinga yang mau mendengar’
    adalah ditujukan kepada Ali as.
    17. Ali adalah penyeru di hari kiamat.
    18. Yang dimaksud kalian adalah ‘umat terbaik’
    adalah Ahlulbait.
    19. Ali dan para pengikutnya adalah sebaik-baik
    makhluk.
    20. Yang dimaksud dengan Golongan Kanan adalah
    Syiah
    21. Para Imam Syiah mempunyai mukjizat.
    22. Mengganti kewajiban membaca Al-Fatihah ketika
    shalat.
    23. Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang.
    24. Tentang air yang terkena najis
    25. Tata cara shalat Rasulullah menurut Syiah.
    26. Tata cara shalat Ali bin Abi Thalib menurut Syiah.
    27. Tata cara shalat Fatimah bin Rasulullah Saw
    menurut Syiah.
    28. Tata cara shalat Imam Husain as menurut Syiah.
    29. Tata cara shalat Imam J’far Shadiq ra menurut Syiah.
    30. Tata cara shalat Ja’far ath-Thayyar menurut Syiah.
    31. Ulim Amri menurut Syiah adalah para imam yang maksum
    32. Menurut Syiah, sumber hukum islam kedua yaitu
    Sunnah Rasulullah saw ditambah dengan 13 orang suci dan maksum.
    (Desastian)

  2. Terkait hari asyura, ada dua kelompok
    yang sesat:
    pertama, kelompok Syiah. Mereka menjadikan hari asyura sebagai hari
    berkabung dan bela sungkawa, mengenang
    kematian sahabat Husain. Mereka
    lampiaskan kesedihan di hari itu dengan
    memukul-mukul dan melukai badan sendiri.

    Kedua, rival dari kelompok Syiah, merekalah An-Nashibah, kelompok yang
    sangat membenci ahli bait Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam. Merekalah orang
    Khawarij, dan kelompok menyimpang dari
    bani umayah, yang memberontak pada
    pemerintahan Ali bin Abi Thalib, memproklamirkan menjadi musuh Syiah
    Rafidhah. Mereka memiliki prinsip
    mengambil sikap yang bertolak belakang
    dengan Syi’ah.
    Syaikhul Islam Ibn taimiyah mengatakan,
    Dulu di Kufah terdapat kelompok Syiah, yang
    mengkultuskan Husain. Pemimpin mereka
    adalah Al-Mukhtar bin Ubaid Ats-Tsaqafi Al-
    Kadzab (Sang pendusta). Ada juga kelompok
    An-Nashibah (penentang), yang membenci Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Salah satu
    pemuka kelompok An-nashibah adalah Al-
    Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi.

    Dan terdapat
    hadis yang shahih dari Nabi shallallahu
    ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda, ???? ???? ?? ????? ????? “Akan ada seorang pendusta dan seorang
    perusak dari bani Tsaqif.” (HR. Muslim) Si
    pendusta adalah Al-Mukhtar bin Ubaid –
    gembong Syiah – sedangkan si perusak
    adalah Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Orang
    Syiah menampakkan kesedihan di hari
    Asyura, sementara orang Khawarij
    menampakkan kegembiraan.
    Bid’ah gembira berasal dari manusia pengekor
    kebatilan karena benci Husain radliallahu
    ‘anhu, sementara bid’ah gembira berasal
    dari pengekor kebatilan karena cinta Husain.
    Dan semuanya adalah bid’ah yang sesat.

    Tidak ada satupun ulama besar empat madzhab yang menganjurkan untuk
    mengikuti salah satunya. Demikian pula tidak
    ada dalil syar’i yang menganjurkan
    melakukan hal tersebut. (Minhaj as-Sunnah
    an-Nabawiyah, 4/555) Orang-orang Khawarij, serta mereka yang
    menjadi rival bagi sikap Syiah, untuk
    mewujudkan prinsipnya di masyarakat,
    mereka menyebarkan berbagai macam
    hadis palsu.
    Diantaranya adalah hadis yang
    menyatakan, ???? ??? ??? ?? ??????? ??? ????? ???? ???? ???? ??? ???? “Siapa yang memberi kelonggaran kepada
    dirinya dan keluarganya pada hari Asyura,
    maka Allah akan memberi kelonggaran rizki
    kepadanya sepanjang tahun.” Hadis ini diriwayatkan Al-Baihaqi dalam
    Syu’abul Iman, Ibnu Abdil Bar dalam Al-
    Istidzkar. Hadis ini diperselisihkan keabsahannya oleh
    para ulama. Sebagian menilai hasan li ghairih
    (berderajat hasan karena beberapa jalur
    sanad yang saling menguatkan). Ini
    sebagaimana keterangan As-Sakhawi,
    dimana beliau menyatakan, “Sanad-sanad hadis ini, meskipun
    semuanya dhaif, hanya saja jika semuanya
    digabungkan maka akan menjadi kuat.” (Al-
    Maqasidul Hasanah, 225) Keterangan As-Sakhawi ini dikomentari Al-
    Albani sebagai kesalahpahaman.
    Al-Albani
    mengatakan,
    “Ini adalah pendapat Sakhawi, dan saya
    tidak menganggapnya benar. Karena syarat
    menguatkan hadis dengan menggunakan banyak jalur adalah tidak adanya perawi
    yang matruk (ditinggalkan) atau perawi
    tertuduh. Sementara hal itu tidak ada dalam
    hadis ini.” (Tamam Al-Minnah, 410) Dalam Silsilah Ahadits Ad-Dhaifah, al-Albani
    menyebutkan berbagai jalur hadis ini dan
    semuanya tidak lepas dari perawi dhaif.
    Kemudian, diantara para ulama yang
    mendhaifkan hadis ini adalah:
    1. Imam Ahmad bin hambal. Salah satu
    muridnya, yang bernama Harb pernah
    bertanya kepada beliau tentang hadis
    memberi kelonggaran kepada
    keluarga ketika Asyura, kemudian
    beliau tidak menganggapnya sebagai hadis. Maksud Imam Ahmad,
    sebagaimana yang dijelaskan Ibnu
    Rajab, bahwa tidak ada riwayat yang
    shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi
    wa sallam. (Lathaiful Ma’arif, 54)

    2. Syaikhul Islam Ibnu taimiyah. Dalam
    Majmu’Fatawa beliau menegaskan
    bahwa hadis ini palsu. (Majmu’ Al-
    Fatawa, 25/313)

    3. Ibn Rajab al Hambali. Beliau
    menegaskan dalam Lathaif, “Hadis ini
    diriwayatkan dari banyak jalur, tidak
    ada satupun yang shahih.” (Lathaiful
    Ma’arif, 54)

    4. Muhadditsul Ashr, Syaikh Al-Albani.
    Beliau memasukkan hadis ini dalam Al-
    Siilsilah Ahadits Dhaifah, no. 6824. Dengan memperhatikan pernyataan para
    ulama pakar hadis, dapat kita simpulkan
    bahwa hadis yang menyebutkan keutamaan
    memberi kelonggaran kepada keluarga pada
    hari Asyura adalah tidak berdasar. Bahkan
    Syaikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengatakan bahwa hadis tentang anjuran memberi
    kelapangan bagi keluarga ketika Asyura
    adalah hadis buatan orang yang membenci
    Ahlu bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
    untuk menunjukkan kegembiraan atas
    wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhuma.
    Allahu a’lam.

  3. Alhamdulillah saya ini adalah Syiah Imamiah 12. Pengikut Ahlulbayt adalah pengikut keturunan rasulullah bukan pengikut keturunan lainnya. Mereka taat kepada Allah, Rasulnya dan para Imam yang diutus sebagai ikutan sepeninggal Rasulullah. Kalau anda mencurigai Syiah, sebaiknya berdialoglah dengan mereka agar terbukti siapa yang benar diantara kita. Saya tidak ikut campur andaikata anda tidak memforward literatur yang penuh fitnah itu. Sekarang bukan jaman baheula yang saling bermusuhan. Perlu saya infokan kepada anda bahwa di Acheh sekarang sudah banyak pengikut Ahlulbayt, terutama sekali di perguruan tinggi. Mereka masih menyembunyikan agama mereka sebab masih banyak orang yang fanatik buta macam anda han “mantengna”. Saya sendiri memahami syiah setelah mempelajari keterangannhya di Kitab Hadist Bukhari dan Muslim sendiri. Mungkin anda tidak membacanya kecuali sekedar ikut-ikutan.

  4. 6. Yusuf al-Bahrani dalam Lu’luah al Bahraini, yang ditahqiq oleh Sayyid Muhammad Bahr al-‘Ulum, hal. 133 menyebutkan bahwa syaikh/ulama mereka kerjaannya melaknat dan mencaci Syaikhaini (Abu Bakar dan Umar) serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan terang-terangan. Ini menjadi kegemaran dan kebiasaannya.

    7. Al-Majlisi dalam kitabnya Mir’ah al-‘Uqul, Juz 26, hal. 488 meneyebutkan riwayat dari Abu Abdillah tentang tafsir QS. Al-Fushilat: 29:

    ??????? ????????? ???????? ???????? ??????? ?????????? ??????????? ???? ???????? ??????????? ????????????? ?????? ???????????? ?????????? ???? ??????????????

    “Dan orang-orang kafir berkata: “Ya Tuhan kami perlihatkanlah kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”.”

    Dia (Abu Abdillah) berkata, “keduanya.” Kemudian berkata, “Dan si fulan adalah syetan.”

    Maksud perkataan Abu Abdillah, “keduanya” adalah Abu Bakar dan Umar. Sedangkan “fulan” adalah Umar, yaitu jin yang disebutkan dalam ayat adalah Umar. Dan dinamakan dengannya karena dia itu syetan, baik karena dia itu sekutu syetan karena termasuk anak zina atau dia suka berbuat makar dan menipu sebagaimana syetan. Ada penafsiran lain, bahwa maksud fulan adalah Abu Bakar.

    (Maka perhatikan dengan seksama, apakah mungkin Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam rela menikahi putri seorang yang memiliki sifat seperti ini? kedustaan Syi’ah sudah tidak bisa dimaafkan lagi,- Redaksi)

    8. Al-Majlisi dalam Bihar al Anwar hal 235: menuliskan kalimat laknat atas Abu Bakar dan menggolongkannya sebagai salah satu Ahli Tabut yang akan kekal dalam kerak api neraka bersama Fir’aun dan lainnya.

    9. Muhammad bin Umar al-Kasyi, dalam kitabnya Rijal al-Kasyi, 61: Dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, bahwa Muhammad bin Abi Bakar membai’at Ali ‘alaihis salam untuk berlepas diri dari bapaknya karena dia kafir. Dalam riwayat lain dia (Muhammad bin Abu Bakar) menyatakan bahwa bapaknya di neraka.

    10. Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitabnya al-Ushul min al-Kaafi, kitab al Hujjah, I/373, hadits no. 4, menukilkan sebuah riwayat yang disandarkan kepada Abu Abdillah: “Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan disucikan, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang mengaku berhak imamah dari Allah yang bukan haknya, dan orang yang menentang imamah dari Allah, dan orang yang meyakini bahwa mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) termasuk orang Islam.”

    . . . upaya Taqrib antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah tidak mungkin tewujud dengan baik sebelum kaum Syi’ah meninggalkan ajaran batil mereka yang mencaci, mengutuk, dan mengafirkan mayoritas sahabat Nabi . . .

    Penutup

    Dari kitab-kitab yang menjadi rujukan sekte Syi’ah di atas membuktikan bahwa orang Syi’ah telah mengafirkan sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang mulia, yaitu Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin al-Khathab. Mereka memandang baik perbuatan mencela dan mengutuk serta melaknat keduanya. Padahal Ahlus Sunnah meyakini keduanya sebagai manusia termulia sesudah Nabinya. Dengan demikian upaya Taqrib antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah tidak mungkin tewujud dengan baik dan sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah sebelum kaum Syi’ah meninggalkan ajaran-ajaranya yang batil, di antaranya mencaci, mengutuk, dan mengafirkan mayoritas sahabat Nabi, lalu menuju pemahaman Islam yang telah diamalkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

  5. jangan samakan sy’iah dengan sunni broo..
    Kitab Syi’ah Melaknat dan Mengafirkan Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah.
    Berikut ini kami nukilkan beberapa keterangan tentang aqidah Syi’ah terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, khu susnya Abu Bakar al-Shiddiq,Umarbin Khathab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin Abi Thalib, dan ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhum dalam kitab-kitab mereka:
    1. Muhammad al-Tuursiirkani, dalam kitabnya La-aliul Akhbar, IV/92 menyebutkan doa-doa yang berisi laknat terhadap Abu Bakar, Umar, dan sahabat lainnya serta istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. “Ya Allah laknatlah Umar, lalu Abu Bakar dan Umar, lalu Ustman dan Umar, lalu Mu’awiyah dan Umar, lalu Yazid dan Umar, lalu Ibnu Ziyad dan Umar, lalu Ibnu
    Sa’ad dan Umar, lalu bala tentaranya dan Umar. Ya Allah, laknatlah ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, Ummu Hakam, dan laknatlah orang- orang yang ridha dengan perbuatan mereka hingga hari kiamat.”
    2. Ahmad al-Ahsa’i dalam kitabnya al- Raj’ah, hal. 12, ketika menjelaskan tentang perjalanan Imam Mahdi, bahwa dia (Imam Mahdi) akan menegakkan had atas Abu Bakar dan Umar serta ‘Aisyah. Dan dikatakan, ????????????? ????? ???????
    ??????????? ????? ???????? ???????????????”Dan apabila dia memasuki Madinah, dia akan mengeluarkan berhala Lata dan Uzza, lalu membakarnya.” (yang dimaksud Lata dan Uzza di sini adalah Abu Bakar dan Umar).
    3. Ni’matullah al Jazairi dalam kitabnya al- Anwar al-Nu’maniyah, III/53 menfitnah AbuBakar radliyallaahu ‘anhu telah bersujud kepada berhala. ????? ???? ???????? ????? ?????? ???? ????????? ??????????? ????? ??????????? ???????????? ??? ?????? ???????? ????? ?????? ????? ??????????? ????? ???????? ???????????? ????????? ??? ????????? ???? “Dan janganlah heran dengan hadits ini, karena sesungguhnya telah diriwayatkan dalam beberapa hadits khusus bahwa Abu Bakar pernah shalat di belakang Rasulullah sambilmengalungkan berhala di lehernya, dan sujudnya itu kepada berhala.”
    4. Ali al-Hara-iri dalam kitabnya Ilzam al- Nashib fii Itsbaat al-Hujjah al-Ghaib, II/266 menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Fir’aun dan Hamman. “Al-Mufadhall bertanya, ‘Wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan Hamman itu?’ Sang Imam menjawab, ‘Abu Bakar dan Umar’.” (Kalau memang ini benar, kenapa Rasulullah tidak pernah menjelaskan semua ini, padahal beliau dibimbing oleh wahyu? Apakah para Imam Syi’ah lebih pintar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.-penulis). “Al-Mufadhall bertanya, ‘Wahai tuanku, siapakah Fir’aun dan Hamman itu?’ Sang Imam menjawab, ‘Abu Bakar dan Umar’.” (dari kitab Syi’ah Ilzam al- Nashib fii Itsbaat al-Hujjah al-Ghaib)
    5. Al-Kaf’ami dalam kitabnya al-Mishbah, hal. 552 menyebutkan doa yang berisi laknat terhadap Abu Bakar dan Umar yang dinamakan dengan Doa Shanamai Quraisy (Doa atas dua berhala Quraisy). Dia menyebutkan bahwa doa ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. ????????? ????? ????? ??????????? ???????? ????????? ????????? ????? ????????????? ???????? ????????????? ???????????????? ??????????? ???????????????? ?????????? ???????? ???????? ???????? “Ya Allah limpahkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, dan laknatlah dua berhala Quraiys, dan kedua jibt dan thaghutnya (maksudnya: syetan yang disembah selain Allah-Pent), kedua tukang dustanya, dan kedua putrinya yang telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu.. .. (dan seterusnya yang berisi penghinaan dan laknat atau kutukan atas keduanya). 6. Yusuf al-Bahrani dalam Lu’luah al Bahraini, yang ditahqiq oleh Sayyid Muhammad Bahr al-‘Ulum, hal. 133 menyebutkan bahwa syaikh/ulama mereka kerjaannya melaknat dan mencaci Syaikhaini (Abu Bakar dan Umar) serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan terang- terangan. Ini menjadi kegemaran dan kebiasaannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Update Corona di Aceh: Sudah 37 PDP COVID-19 Pulang dari RS dan Sehat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 37 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona atau COVID-19 di Aceh dilaporkan...

Update Corona di Aceh: ODP Bertambah Jadi 893, PDP 45, dan Hasil Swab EY Negatif

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona atau COVID-19 di Aceh kembali bertambah. Kali ini ODP bertambah 96 orang menjadi...

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis yang saat ini menjadi garda...

Ruang Outbreak Pinere RSUDZA Dijadikan Tempat Isolasi Pasien COVID-19

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - RSUDZA Banda Aceh telah memiliki 12 ruang Outbreak Pinere (Penyakit Infeksi New-Emerging dan Re-Emerging) pada Selasa (31/3/2020). Ke-12 ruang...

Update Corona di Aceh: 5 Positif, 2 Meninggal, 44 PDP, 797 ODP

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Angka Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona di Aceh bertambah 177 orang menjadi 797 orang per Selasa (31/3/2020) pukul 15.00...

More Articles Like This