Monday, April 6, 2020

Jaga Hutan, LPHK Damaran Baru Bentuk Tim Ranger Perempuan Pertama di Aceh

Must Read

Basecamp Rekanan Zaratex Diberondong

ACEH UTARA | ACEHKITA.COM -- Penembakan kembali terjadi di Aceh Utara. Belum lagi kasus penembakan brutal di perkebunan Satya...

VIDEO — Tergiur Upah Gede, Sopir Nekat Angkut 4,8 Ton Ganja

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Empat warga Aceh Besar ini, M, NS, SF, dan MS, nekat menjadi pengangkut 4,8...

FOTO | Rumah Rusak

Sebuah rumah di Gampong Baro, Mane, Pidie, yang rusak akibat gempa berkekuatan 6,0 dan 5.1 SR, Selasa (22/1/2013).

Al Chaidar: Korban Pamulang Umar Patek

ACEH BESAR | ACEHKITA.COM -- Pengamat terorisme Al Chaidar menyebutkan bahwa korban meninggal dalam penggerebekan oleh Datasemen 88 Antiteror...

Para perempuan dari Kampung Damaran Baru di Kabupaten Bener Meriah berkumpul, lengkap dengan topi, seragam, sepatu bot, dan tas berisi perlengapan patroli hutan. Mereka adalah perempuan yang berasal dari Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) Damaran Baru, dimana mereka telah membentuk tim ranger perempuan, atau disebut sebagai Mpu Uteun (penjaga hutan).

Pembentukan tim ranger tersebut menjadi terobosan baru, karena merupakan ranger perempuan pertama di Aceh untuk melindungi kawasan hutan negara melalui skema hutan desa.

Ketua LPHK Damaran Baru, Sumini, mengatakan LPHK Damaran Baru membentuk tim ranger perempuan sebagai bagian dari gerak inisiatif dan rasa tanggung jawab untuk menjaga sumber-sumber kehidupan dengan melakukan pengelolaan, pemanfaatan dan perlindungan kawasan hutan lindung yang telah dibebani izin hak pengelolaan melalui skema Hutan Desa.

“Inisiatif permohonan untuk mendapatkan izin hutan desa oleh Perempuan Kampung Damaran Baru karena dampak yang mereka rasakan akibat kerusakan lingkungan yang terus menerus terjadi di kampung. Juga termotivasi untuk melindungi hutan karena trauma yang melanda akibat terjadinya banjir bandang pada tahun 2015 di Kampung Damaran Baru yang mengakibatkan hilangnya belasan rumah warga,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (14/2/2020).

Sejak itu, kata Sumini, perempuan di Damaran Baru aktif dalam kegiatan-kegiatan restorasi agar mencegah terjadinya kembali banjir bandang, dan penuh semangat untuk berkontribusi lebih dalam perlindungan kawasan hutan. Menurutnya, dengan terbentuknya tim ranger perempuan tersebut diharapkan perempuan di Damaran Baru bisa menjadi local champion untuk melindungi hutan, sumber mata air dan sumber-sumber kehidupan lainnya secara langsung dan berkelanjutan.

“Perlindungan hutan terkesan seperti pekerjaan untuk laki-laki saja, tetapi perempuan Kampung Damaran Baru mengambil peran kunci untuk melindungi kawasan hutan, bagi kami menjaga hutan adalah menjaga kehidupan, hutan adalah nafas hidup kami. Ketika hutan rusak, perempuanlah yang akan menerima dampak lebih dari bencana tersebut. Dengan terbentuknya tim Mpu Uteun yang akan aktif berpatroli dikawasa hutan, Kampung Damaran Baru akan mendapatkan lebih banyak manfaat,” kata dia.

Sumini menjelaskan, tim Mpu Uteun (ranger perempuan) ini akan melakukan kegiatan patroli di wilayah-wilayah hutan kunci yang memiliki nilai signifikan untuk masyarakat Damaran Baru, seperti wilayah Pinggiran Daerah Aliran sungai.

Pada umumnya, setiap patroli bersifat pulang-pergi karena jangkauan wilayah patroli tidak begitu jauh dari Desa. LPHK Damaran Baru juga berkolaborasi dengan tim patroli laki-laki untuk jangkauan wilayah patroli yang lebih jauh dari desa.

Sementara itu, Ketua Yayasan HAkA Fariwa menyampaikan bahwa pihaknya sangat mendukung inisiatif LPHK Damaran Baru dalam membentuk ranger perempuan tersebut. Menurutnya, pembentukan tim Mpu Uteun itu suatu hal yang baru sebagai tim ranger perempuan pertama di Aceh.

“Kami harap tim ranger perempuan ini menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Aceh untuk melindungi hutan dan lingkungan kita. HAkA berkomitmen untuk mendampingi masyarakat dalam upaya perlindungan hutan dan mengamplifikasikan suara-suara masyarakat agar pertimbangan mereka di dengar oleh pemangku kebijakan,” ujar Farwiza.

Ia menjelaskan, Yayasan HAkA memiliki komitmen tinggi untuk dapat bekontribusi pada peningkatan pemahaman dan kapasitas LPHK Damaran Baru. Pengorganisasan dan pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan HAkA, baik praizin atau pascaizin terus berproses bersama di tingkat grassroot untuk melakukan berbagai upaya penyelematan kawasan hutan.

“Ketika perempuan membentuk massa kritis antara 25 dan 35 persen orang di daerah hutan kemasyarakatan, dampaknya akan terasa. Kondisi dan regenerasi hutan akan membaik, dan para perempuan itu sendiri mendapatkan suara politik yang lebih besar,” sebut Farwiza.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Tiga Pasien Positif COVID-19 di Aceh Sembuh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Tiga pasien positif corona atau COVID-19 di Aceh dinyatakan sembuh. Mereka diperbolehkan pulang setelah...

200 Pengemudi Ojek Daring di Aceh Peroleh Bantuan Sembako

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 200 pengemudi ojek daring di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, Aceh, memproleh bantuan sembako dari Forum...

Update Corona di Aceh: Sudah 37 PDP COVID-19 Pulang dari RS dan Sehat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Sebanyak 37 orang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona atau COVID-19 di Aceh dilaporkan sembuh dan telah pulang dari...

Update Corona di Aceh: ODP Bertambah Jadi 893, PDP 45, dan Hasil Swab EY Negatif

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) Corona atau COVID-19 di Aceh kembali bertambah. Kali ini ODP bertambah 96 orang menjadi...

Surat Wali Nanggroe Kepada Para Tenaga Medis

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haytar menyampaikan rasa terima kasih kepada para tenaga medis yang saat ini menjadi garda...

More Articles Like This