Wednesday, February 26, 2020

Islam Bukan Utopia

Must Read

Kemenag Aceh Pusatkan Penulisan Mushaf di Jeumala Amal

BANDA ACEH -- Kementerian Agama Provinsi Aceh memusatkan proses penulisan mushaf Alquran oleh santri di kompleks Dayah Jeumala Amal,...

Gubernur Lantik Bupati Aceh Barat

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Gubernur Aceh Zaini Abdullah melantik Teuku Alaidinsyah dan Rahmat Fitri HD sebagai bupati dan...

Lebaran Pertama, Tak Ada Teut Karbet di Pidie

PIDIE | ACEHKITA.COM –Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada malam pertama Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tak ada suara...

76 Jamaah Haji Sisa Masuk Asrama

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Sebanyak 76 Jamaah Calon Haji (JCH) yang tersisa, asal Aceh Singkil dan Aceh Tenggara...
Saiful Mahdi
Saiful Mahdihttp://www.stat.unsyiah.ac.id
Pembelajar di Statistika & PPISB Unsyiah, Aceh Kita, ICAIOS, Aceh Institiute, Phi-Beta Group.

Islam Bukan Utopia

Saiful Mahdi*

Kasus “vaksin haram” kemarin kembali mengingatkan saya pada betapa jauhnya kemampuan Muslim untuk bisa menerapkan ajaran agamanya, Islam, yang mulia dan sempurna. Ilmu kita tentang halal dan haram masih sangat terbatas. Masih seperti hafalan saat sekolah dasar dulu. “Daging babi, hewan yang bertaring, hewan yang hidup di dua dunia adalah haram”. Mungkin sedikit lebih dalam bagi mereka yang beruntung dapat guru hebat di saat aliyah atau ketika mengaji di dayah.

Tapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian banyak dan pesat. Ilmu tentang bahan makanan dan pertanian (life and agricultural sciences) telah menghasilkan aneka produk berbasis bioteknologi yang sangat kompleks. Obat-obatan dan makanan dipadu-padan dari aneka bahan. Alami maupun sintetis. Hanya teknologi seperti teknologi DNA yang mungkin melacak asal-muasal bahan yang ada dalam obat dan makanan kita.

Bahan-bahan ini bisa jadi telah diolah dari aneka produk turunan yang diolah dari turunan produk lainnya dari sumber bahan dasarnya. Sampai di tangan pembuat kue, misalnya, ada bahan yang hanya diketahui sebagai “tepung maizena”. Tapi si tepung ini sendiri adalah hasil olahan dari jagung dan bahan lainnya. Jagungnya bisa berasal dari mana-mana. Pertanian jagungnya belum tentu “halal”. Maaf, pupuk alami dari kotoran babi bisa jadi menjadi bagiannya. Belum lagi proses pengolahannya. Dan kita tidak banyak yang mempertanyakan apakah sekotak tepung maizena yang kita beli di pasar itu halal atau haram. “Ah…kan ini hanya tepung jagung!”

Ketika masalah “vaksin haram” mencuat, kita hanya jadi konsumen vaksin itu sekaligus konsumen berita tentang halal dan haramnya. Vaksin yang haram itu konon dari India. Berita dan debat tentang halal haramnya berseliweran dalam media arus utama maupun media abal-abal. Sebagian jadi bahan hoax yang dipolitisir menjelang Pemilu.  Sementara kita hanya tahu bahan dasar yang haram, itupun sangat terbatas. Konon ada campuran bahan yang berasal dari produk turunan dari babi.

Yang jelas Aceh bukan penghasil vaksin, apalagi vaksin halal. Indonesia cukup maju, tapi juga tak mampu mengahasilkan semua jenis vaksin halal untuk kebutuhan seluruh rakyatnya. Dan hanya ada sejumlah laboratorium yang mampu memeriksa kandungan vaksin dan melakukan pelacakan DNA sampai diketahui ada tidak unsur haram di dalamnya seperti bahan dari babi atau turunannya. Teknologi DNA masih mahal. Tenaga ahli, apalagi dari kalangan Muslim, juga masih terbatas.

Sementara itu, adakah ahli agama kita yang juga mengikuti perkembangan bioteknologi? Mungkin sebagian mengharamkan vaksin tanpa tahu sama sekali apa itu vaksin dan apa manfaat dan mudharat dipakai atau tidak dipakainya. Begitu ada kabar ada bahan dari babi, langsung teriak haram dan menyalahkan pemerintah.

Sebagai perbandingan, pendidikan Agama Islam sampai perguruan tinggi pun tetap dimulai dengan thaharah dengan materi yang sama dengan di madrasah tsanawiyah. Karena guru agama kita seringkali hanya menghafal apa yang diterimanya dari gurunya, dan gurunya dari guru sebelumnya. Kitab-kitab pun masih yang itu-itu saja.

Betul, dasar-dasar hukumnya ada di kitab-kita utama dari para ulama dan fuqaha. Tapi makanan dan minuman yang ada di rumah dan sekitar kita bukan lagi makanan dan minuman dari bahan dasar yang jelas halal-haramnya.  Karena itu, kita juga perlu belajar terus dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tetap bisa menjadi Muslim yang taat. Muslim yang menjalankan semua perintah agamanya dan menjauhi larangannya.

 

Islam utopis di Aceh?

Sebagai tuntunan hidup tentu saja kita yakin akan kesempurnaan Islam. Tapi sebagai Muslim yang serba tak sempurna, kita bisa jadi telah menjadikannya sebuah utopia. Bagaimana tidak, nilai-nilai Islam yang agung terdegradasi luar biasa di tangan Muslim yang tak berilmu. Agama yang demikian agung jadi makin utopis karena makin sulit untuk kita bisa hidup dengannya.

Misalnya, betul Islam melarang campurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Karena itu, kita tidak mau kolam renang dipakai laki-laki dan perempuan sekalian. Tapi ini bukan alasan untuk melarang perempuan ke kolam renang! Perempuan juga perlu bisa berenang agar sehat dan bisa siaga bencana. Bukan juga alasan untuk melarang perempuan ngopi atau ke bioskop! Karena perempuan juga perlu hiburan.

Tergantung tafsir dan pemikiran Islam mana yang Anda yakini, betul juga ada larangan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri. Tapi ini bukan dasar untuk melarang perempuan duduk megangkang saat duduk di boncengan sepeda motor. Karena posisi mengangkang itu memang paling aman untuk berboncengan.

Shalat di masjid berjamaah sangat dianjurkan. Sebagian bahkan menyatakannya sebagai wajib. Tapi kita lupa memperbaiki faktor keselamatan lingkungan di jalan menuju mesjid. Ketertiban dan keselamatan dari parkir mobil, sepeda, hingga sandal saja masih jadi masalah. Belum lagi sumber air dan toilet mesjid yang kotor.

Kita diharuskan jujur sebagai Muslim. Tapi banyak urusan administrasi negara sejak di kampung-kampung, di kantor polisi, sampai di rumah sakit seringkali membuat kita berbohong kecil-kecilan sampai besar-besaran. Mereka yang punya koneksi bisa dapat kamar perawatan yang lebih baik di rumah sakit, sementara yang tidak, walaupun sama-sama berhak dengan asuransi kesehatan yang sama, seringkali harus bersabar di kamar dengan mereka yang tak punya koneksi lainnya, atau yang mencoba tetap jujur di tengah sistim yang makin korup.

Sementara penegakan Syariat Islam terus dipacu oleh pemerintah dan tokoh-tokoh agama, mereka lupa melakukan kewajiban mereka. Bukan hanya menyampaikan ajaran agama yang utuh dengan uzur-uzur dan alasan darurat yang membolehkan yang haram sekalipun menjadi makruh, mubah, bahkan halal; tapi juga berupaya keras agar seluruh masyarakat bisa menjalankan Syariat Islam dengan baik, aman, dan nyaman. Lewat air bersih yang terus mengalir, keamanan dan kesehatan lingkungan yang terjamin, pelayanan publik yang jujur dan amanah. Lewat tata kelola pemerintahan dan masyarakat yang memampukan semua orang menjalankan syariat dengan baik.

Karena kalau tidak, formalisasi Syariat Islam hanya akan semakin menjauhkan ummatnya dari agamannya. Islam menjadi semakin sulit dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Islam menjadi semakin utopis! Padahal syariat itu maksudnya untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan manusia. Begitu yang ada dalam maqashid syariah yang diajarkan dalam Islam sejak awal menurut As Syatibi hingga Yusuf Qaradhawi.

Islam bukan utopia

Tapi saya yakin Islam bukanlah utopia.  Cobalah ke Mesjid Al Makmur di Lampriet, misalnya. Kenapa makin banyak jamaah dan makmur mesjidnya? Karena orang dapat beribadah dengan aman dan nyaman di sana. Shalat malamnya pun ramai didatangi jamaah. Alhamdulillah makin banyak mesjid seperti itu sekarang, terutama di perkotaan.

Untuk skala yang lebih makro kita bisa lihat wilayah dan negara lain yang manyoritas Islam maupun yang bukan. Seringkali kita dengar para mahasiswa dan pelancong kita yang memuji lebih bersih dan teraturnya Malaysia. Shalat berjamaah lebih mudah dan nyaman, karena itu lebih sering diikuti selama mereka di negeri jiran itu. Balik kampung, kebiasaan berjamaah kian luntur.

Di Thailand, kita bisa menikmati makanan halal dengan tenang di tengah manyoritas non-Muslim yang begitu dominan. Chullalongkorn University di Bangkok punya salah pusat kajian halal terbaik di dunia dengan laboratorium yang bisa melacak DNA semua makanan sebelum mendapat sertifikasi halal. Di kawasan Pattani, ada Prince Soghkla University yang juga punya Halal Research Center yang diakui dunia.

Alih-alih melarang anak perempuan dan istrinya berenang, Muslim di banyak komunitas di Amerika, Australia, dan Eropah, bisa memastikan hari-hari atau jam khusus kolam renang publik bisa dipakai hanya oleh perempuan. Apalagi kalau kolam renangnya privat. Tinggal atur dengan pemiliknya saja. “Ladies Night” bisa jadi model pelayanan khusus untuk perempuan di warung kopi, saat mana semua pelayan dan pengunjungnya adalah perempuan. Dengan catatan, ada pihak keamanan yang jujur ikut menjaga lingkungan.

Kalau kita ingin melarang anak perempuan atau istri kita naik sepeda motor dengan mengangkang, maka perlu dibuat riset dan pengembangan kenderaan atau cara berkendaraan yang lebih aman. Tapi sebenarnya itu juga sudah ada. Pemerintah tinggal menyediakan transportasi publik yang aman, terjangkau, dan massal. Apalagi kalau bisa nyaman, bersih, dan sejuk. Melayani semua orang di semua pelosok wilayah dari semua status sosial. Bila perlu ada bagian khusus perempuan seperti dalam bus way Jakarta atau sub-way di Nagoya.

Di negeri yang maju dan beradab, Islam bukanlah utopia. Hukum Islam dapat ditegakkan setegak-tegaknya oleh para penganutnya, laki-laki dan perempuan, tua maupun muda. Chik putik tuha muda dapat beribadah dengan mudah, nyaman, dan aman. Bukan sekedar jadi selogan “negeri aman ibadah nyaman” ala militer Indonesia, tapi perasaan aman tak kunjung ada dalam hati rakyatnya.

Kuncinya: Jangan malas, pakai ilmu

Ushul fiqh mengatakan: “Islam mudah, tapi jangan dimudah-mudahkan.” Seperti untuk yang lainnya, Islam juga mengajarkan keseimbangan dalam ibadah. Tapi Islam di Aceh, karena memaksakan formalisasi hukum di saat infrastruktur fisik dan non fisiknya belum memadai, bisa jadi berat dan diberat-beratkan bagi sebagian orang. Walaupun mungkin biasa saja bagi sebagian yang lain. Islam menjadi demikian utopis. Kita ingin ber-Islam secara kaffah, tapi kok rasanya makin sulit?

Agar Islam itu tidak diberat-beratkan bagi sebagian orang, tapi dimudah-mudahkan oleh yang lain, kita tidak boleh malas. Karena kalau kita malas, kita akan terus menyalahkan mereka yang tidak taat beribadah atau lebih gawat lagi, menyalahkan Tuhan dengan segala aturannya. Dan perempuan serta kaum yang terpinggirkan seringkali diberatkan oleh tafsir hukum Islam yang tidak disertai hikmah ilmu.  Siapakah yang paling dirugikan oleh layanan publik yang tidak Islami?

Agar tidak demikian, kita harus mengusai dan memakai ilmu pengetahuan dan teknologi agar hidup kita menjadi lebih mudah dan nyaman dan pada gilirannya melaksanakan ajaran agama kita juga jadi lebih nyaman dan khusyuk.  Bahwa dasar hukum Islam akan tetap abadi justru karena disinari hikmah ilmu yang terus berkembang.

Percayakah Anda jika saya katakan menjadi seorang Muslim di Tokyo dimana kita minoritas jauh lebih mudah ketimbang menjadi Muslim di Kale, Pidie, misalnya, yang semuanya “Muslim”? Contohnya, sebagai Muslim yang juga dituntut bekerja profesional di dunia modern, seorang Muslim di Tokyo bisa merencanakan dengan cermat ibadah Shalat Jumat-nya. Kapan naik sub-way untuk ke salah satu Mesjid yang hanya berbilang jari itu, jam berapa tiba, berapa lama di Mesjid, kapan naik sub-way untuk kembali ke kantornya atau ke kelas di kampus tempat kuliahnya.

Sementara di Kale, pelosok Pidie sana, seorang bisa saja merencanakan dengan baik prosesi ibadah Jum’at nya. Tiba tepat waktu di sebuah mesjid, tapi kemudian bingung harus buang air kecil dimana.  Kemudian ditambah lagi “Ie ka padum uroe hana udep. Pompa ie mate” (Air sudah beberapa nggak hidup. Pompa air sedang tidak berfungsi). Alhamdulillah, ada rumah tetangga Mesjid yang rela kamar mandinya dipakai. Walaupun air sumurnya kuning dan berbau. Ok lah…Terus shalat sunnah. Tapi Jumat tak kunjung dimulai. Rupanya khatib terhalang di jalan. Motornya kecemplung kubangan kerbau di tengah jalan! Dan tiba-tiba lampu di Mesjid pun padam. Pemadaman tanpa pemberitahuan. Kipas angin mati, suasana mesjid jadi gerah tak kepalang. Jak lom u Kale! Allahu Akbar! Lahawla wala quwwata illa billah.

*Saiful Mahdi adalah dosen dan peneliti di Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB), Unsyiah, Banda Aceh. Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Jajan Pakai Uang Palsu, Dua Warga Aceh Ditangkap Polisi

LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM - Dua warga Aceh ditangkap polisi di Kota Lhokseumawe, setelah jajan makanan dan minuman dengan uang...

Diskusi Quo Vadis Rencana Investasi Aceh, Yuk!

Institute for Strategic and Policy Studies (ISPS) yang berkantor di Jakarta, bekerja sama dengan Aceh Bisnis Club (ABC) Jakarta, dan Donya Ekonomi Aceh (DEA),...

Wali Nanggroe Bertemu Dubes Uni Eropa Bahas MoU Helsinki

JAKARTA | ACEHKITA.COM - Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-haythar bertemu Duta Besar (Dubes) Uni Eropa delegasi untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket, membahas...

Daftar Nama 22 Petugas Haji 2020 Kloter Aceh yang Lolos Seleksi

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh mengumumkan 22 nama calon petugas haji Aceh yang lulus dalam seleksi petugas haji...

Busana Rumoh Syar’i di Aceh Wedding Expo 2020 Dapat Pujian dari Ketua DWP

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Setda Aceh, Safrida Yuliani, memuji keindahan busana muslim hasil karya Rumoh Syar'i. Ia terpukau menyaksikan peragaan model yang mengenakan...

More Articles Like This