In Memoriam: Jan Hodann, Pria Swedia dan Kiprahnya Dalam Damai Aceh

Jan Hodann bersama Alm Tgk Hasan Tiro dan para petinggi GAM di Swedia. Dok, Munawar Liza

Dalam perjuangan dan damai Aceh, banyak tokoh internasional yang membantu dengan berbagai cara. Sebagian dari mereka tidak dikenal orang ramai. Salah satunya, Jan Hodann, mantan petinggi The Palme Center Swedia.

Banyak kawan-kawan yang berduka cita menulis eulogi kepadanya setelah berpulang, untuk dikenal kiprahnya. Seumpama kepulangan Lord Eric Avebury, bangsawan Inggris, dan Dr. Surin Pitsuwan, mantan Menteri Luar Negeri Thailand.

Awal mula keterlibatan Jan Hodann membantu Aceh, berkaitan dengan sebuah yayasan yang bernama The Palme Center, atau lengkapnya The Olof Palme International Center, berbasis di Swedia. Lembaga ini anak dari Social Democratic Party, banyak membantu penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di berbagai belahan dunia termasuk di Aceh.

Sebelum damai Aceh diraih pada 15 Agustus 2005, Hodann membantu pimpinan GAM di Swedia untuk dapat berkomunikasi dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan civil society di lapangan. Memberikan berbagai nasihat dalam perundingan. Membantu menyediakan ahli-ahli yang membantu pimpinan dan tim perunding GAM dalam negosiasi.

Sebelum MoU Helsinki (Nota Kesepahamam Damai GAM-RI) ditandatangani, The Palme Center juga membantu GAM untuk melakukan uji publik atas kesepahaman yang akan ditandatangani. Saat itu, beberapa saat setelah tsunami Aceh, ratusan aktivis, anggota GAM dari Aceh dan luar negara, ulama, anggota Dewan baik di pusat maupun di daerah, akademisi, tokoh perempuan, ulama, pengusaha, diundang datang ke Malaysia untuk mendengar paparan draft MoU Helsinki.

Setelah beberapa hari diskusi dan mendapat dukungan, MoU kemudian ditandatangani di Helsinki, Finlandia oleh perwakilan Republik Indonesia dan GAM. Selanjutnya, The Palme Center aktif membantu untuk sosialisasi hasil perundingan di Eropa dan juga di Aceh.

Jan Hodann adalah tokoh kunci dari The Palme Center Swedia. Setelah damai diraih, dia langsung turun ke Aceh, membuat kantor kecil yang kami kelola untuk mendukung perwakilan GAM di AMM. Hodann datang melihat langsung kondisi Aceh, masuk ke pelosok, bertemu dengan korban konflik dan mantan kombatan, mendorong mereka untuk belajar, sehingga Aceh mampu dikelola dan diatur oleh orang Aceh sendiri, dan mempunyai keterampilan.

Jan Hodann juga membantu proses pembelajaran, membiayai training of trainers di bidang demokrasi kepada mantan kombatan. Pelatihan-pelatihan dilakukan di berbagai daerah untuk menyiapkan kader-kader GAM agar mampu bersaing secara politik dalam pemilihan di Aceh. Untuk itu, kami membentuk Sekolah Perdamaian dan Demokrasi (SPD) yang dibantu oleh Palme Center dan FES Jerman.

Jan Hodann juga tidak pelit ilmu. Spirit Social Democratic Party juga diturunkan kepada calon-calon pemimpin di Aceh waktu ikut Pilkada 2006, sehingga menguatkan program-program yang berpihak kepada rakyat seumpama kesehatan dan pendidikan gratis.

Setelah pensiun dari The Palme Center, Jan Hodann tidak melupakan Aceh. Selalu membantu di saat diperlukan. Dia pun pindah dari Stockholm ke utara Swedia untuk memelihara kuda di Frösön, Östersund, daerah “yang musim dinginnya bersalju setebal 1,5 meter,” katanya kepada saya suatu waktu.

Walaupun sudah pensiun, lembaganya, Palme Center, masih mengajak perunding-perunding Aceh untuk membantu proses perdamaian di berbagai tempat, termasuk di Myanmar.

Sabtu kemarin (31/1/2021), saya baru mendapat informasi, bahwa Jan Hodann, pejuang kemanusian itu, sudah meninggal dunia pada 26 Desember 2020 lalu. Sangat berduka atas kepulangannya.

Pejuang ini mesti dicatat dengan tinta emas dalam sejarah kita, dia orang asing, lahir 9.000 kilometer dari Aceh, namun membantu Aceh bagai tanah airnya sendiri.

Munawar Liza Zainal
Mantan Juru Runding GAM dalam Perdamaian Aceh

Artikel ini pertama tayang di acehkini.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.