Wednesday, October 27, 2021
spot_img

GEN-A Gelar Webinar Nasional Bahas Resistensi Antibiotik

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Public Health Innovators (PHI) yang merupakan sub-unit Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) mengadakan webinar berskala nasional membahas resistensi antibiotik, Minggu (6/12). Webinar bertema “One Health: Kolaborasi Multidisiplin dalam Mencegah Resistensi Antibiotik” diikuti 363 peserta dari unsur tenaga kesehatan dan juga masyarakat umum.

Dalam keterangan tertulis yang dikirim Raisha Fathima dari GEN-A kepada acehkitacom pada Senin (7/12), tema tersebut didasari atas tingginya peningkatan kasus resistensi antibiotik. Pada 2020, World Health Organization (WHO) telah mengemukakan Antimicrobial Resistance (AMR) sebagai salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan terbesar bagi masyarakat global.

Disebutkannya, pengendalian AMR diusung oleh WHO dengan konsep One Health yang berarti bahwa berbagai sektor dan pemangku kebijakan yang terlibat dalam kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan, produksi pangan dan pakan, serta lingkungan, harus berkolaborasi dalam merancang dan melaksanakan program, kebijakan, perundang-undangan, dan penelitian untuk mencapai kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung konsep tersebut melalui peningkatan kesadaran dan keilmuan akan resistensi antibiotik melalui penyampaian materi, diskusi, dan tanya jawab bersama tiga narasumber secara online melalui Zoom Cloud Meetings. Selain itu, topik pembahasan webinar juga menekankan kolaborasi antara tenaga medis, calon tenaga medis, serta masyarakat umum dalam pencegahan resistensi antibiotik,” tulis Raisha dalam keterangannya.

Webinar ini diawali dengan penyampaian materi oleh Tristia Rinanda, staf pengajar bagian mikrobiologi FK Unsyiah dan mahasiswi program studi doktor Farmasi ITB. Ia menyebut, saat ini kita sedang mengalami dual health threats: pandemi COVID-19 dan pandemi AMR.

Menurutnya, orang-orang yang rentan terhadap COVID-19, juga rentan terhadap AMR. Resistensi antibiotik sulit dikendalikan penyebarannya karena manusia bersifat mobile sehingga sangat berpotensi menjadi permasalahan dunia.

Ia juga menjelaskan, mekanisme resistensi antimikroba terbagi menjadi tiga jenis: resistensi intrinsik, resistensi dapatan dan resistensi adaptif.

Sementara Teuku Reza Ferasyi, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan dan Kepala CENTROVETS-OHCC Unsyiah, menyampaikan bahwa resistensi antibiotik bukanlah penyakit melainkan keadaan di mana bakteri mampu bertahan dari antibiotik tertentu atau antibiotik menjadi tidak ampuh lagi untuk membunuh bakteri tersebut.

Ia menyebut, potensi resistensi antibiotik dari hewan bisa berasal dari hewan peliharaan, hewan ternak/produksi, hewan akuatik, dan satwa liar. Ketika hewan sudah mengalami resistensi antibiotik maka gen resistensi dapat tersebar ke manusia melalui produk yang dihasilkan oleh hewan tersebut (daging, susu, telur), lingkungan (air), feses hewan, atau paparan langsung dari hewan ternak.

Lebih lanjut, pemateri ketiga Azizah Vonna dosen Jurusan Farmasi FMIPA Unsyiah dan apoteker RSUDZA Banda Aceh mengatakan, untuk memulai terapi antibiotik, syarat pertamanya adalah adanya infeksi pada seseorang. Kemudian diidentifikasi patogen penyebabnya, selanjutnya menentukan pilihan terapi antibiotik yang sesuai dengan saran dokter. “Tidak dibenarkan melakukan self-diagnosed, dan tahap selanjutnya adalah monitor respons dari terapi tersebut.”

Ia juga menekankan bahwa cara mendapatkan antibiotik yang benar seharusnya melalui fasilitas kesehatan yang sesuai, bukan melalui toko obat atau pembelian online. Konsumsi antibiotik secara bebas akan menyebabkan antibiotik tidak efektif lagi, biaya rawatan bertambah tinggi karena antibiotik lini terakhir banyak yang tidak ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional, peningkatan masa rawatan di rumah sakit dan potensi resiko kematian.

Kegiatan webinar ini digelar GEN-A berkolaborasi dengan Asian Medical Students’ Association (AMSA) Unsyiah dan Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA) FK Unsyiah. Selain itu, juga turut mendapat dukungan dari T-Helper dan Center for Tropical Veterinary Studies-One Health Collaboration Center (CENTROVETS-OHCC) Unsyiah.

“Dengan berlangsungnya kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran untuk menggunakan antibiotik dengan bijaksana. Semoga momen ini menjadi pemersatu tenaga kesehatan dan masyarakat dalam menekan kasus AMR dan mewujudkan kesehatan makhluk hidup secara holistik,” tulis Raisha.[]

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
20,864FollowersFollow
22,500SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU