Thursday, January 23, 2020

Etalase Ideologi

Must Read

Giliran Irwandi Yusuf Mendaftar via Nasdem

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Setelah Tarmizi A. Karim, kini giliran Irwandi Yusuf yang mendaftarkan diri menjadi bakal kandidat...

Gubernur Didesak Bubarkan Pusat Mediasi Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Tiga organisasi masyarakat sipil (OMS) mendesak Gubernur Irwandi Yusuf untuk mencabut dan membubarkan Pusat...

Mahasiswa Minta Rektor Unsyiah Selesaikan ‘PR’

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Seratusan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) berunjukrasa di kampusnya, Selasa (30/3). Mereka meminta Rektor...

FOTO | Razia Celana Ketat

Wilayatul Hisbah memberhentikan warga yang menggunakan celana ketat di kawasan Jalan Teuku Nyak Arif, Lamnyong, Banda Aceh, Rabu (13/2)....

TERKAIT Irak, Suriah, dan kini Marawi, saya sulit memahami strategi yang dipilih untuk mempromosikan apa yang disebut “Negara Islam” (Islamic State).

Jika kita anggap setiap ideologi dan peradaban sedang bertarung, maka masing-masing punya etalase untuk dipertontonkan sebagai bahan promosi.

Jalan kapitalisme diambil Amerika dan mereka menyebutnya “American Dream”. Itulah etalase kapitalisme. Belum tentu cocok untuk semua orang, tapi setidaknya tak ada orang Amerika yang berbondong-bondong bermigrasi mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain. Yang terjadi justru Amerika membangun pagar di perbatasannya dengan Meksiko untuk membendung imigran. Dan dia menjadi yang terkuat secara militer saat ini.

Dakwah tentang kapitalisme menjadi lebih mudah bagi orang Amerika yang meyakininya.

Etalase ideologi lainnya mewujud dalam bentuk Singapura yang kerap dibanggakan sebagai contoh sukses “kapitalisme negara” di bawah Temasek Holding. Sekali lagi belum tentu cocok untuk semua orang, tapi pilihan itu membawanya menjadi salah satu dari tiga negara terkaya di dunia selain Qatar dan Luxemburg.

Ada lagi jalan komunisme yang diambil Kuba. Ekonominya tak glamor seperti negara lain (salah satunya akibat embargo) tapi sistem jaminan kesehatannya pernah dianggap yang terbaik dan gratis. Ada yang bisa mereka banggakan dan “jual”.

Dulu pernah ada Jerman Timur yang kualitas pendidikannya dikenal baik dan gratis. Karena gratis, potensi setiap orang untuk bersekolah setinggi-tingginya menjadi tergali, meski belakangan terjadi “brain drain” karena banyak yang pindah ke Jerman Barat mencari kebebasan dan gaji lebih tinggi. Salah satu alasan mengapa tembok Berlin mulai dibangun pada 1961.

Ideologi “jalan ketiga” ditunjukkan negara-negara Eropa atau Skandinavia yang mencari kekayaan melalui ekonomi pasar, tapi pandai membaginya melalui pajak tinggi dan program jaminan sosial. Ke sinilah warga korban konflik di Timur Tengah bermigrasi. Bukan ke negara-negara yang dianggap penduduknya lebih banyak yang seagama.

Bukankah dakwah sebuah ideologi akan lebih efektif jika ada satu-dua praktik yang dapat ditunjukkan sebagai rujukan?

Mengapa sebagian warga Malaysia dan Singapura tak tertarik dengan model demokrasi yang diambil Filipina atau Indonesia? Karena kualitas hidup warga kedua negara ini dianggap tak lebih baik.

Ada juga “etalase ideologi” yang ditunjukkan negara kecil seperti Bhutan yang tak ingin terjebak dalam indikator-indikator duniawi seperti Pertumbuhan Ekonomi atau Produksi Nasional Bruto (GDP). Mereka punya indeks sendiri, yaitu Indeks Kebahagiaan Bruto alias Gross National Happiness (GHN).

Salah satu indikator yang digunakan adalah bagaimana warga Bhutan mengisi waktu luang dan apakah warga negaranya cukup tidur. Indeks yang dirilis pemerintah Bhutan 2015 menyatakan kebahagiaan warganya meningkat dibanding survei 2010 karena jam tidur warga bertambah.

Tak ada negara yang menertawakan indikator ini, karena semua soal pilihan dan mereka pun sejatinya berusaha mencapainya melalui perjuangan hak-hak pekerja. Bukankah hak libur atau cuti diperjuangkan karena kita ingin cukup istirahat atau tidur?

Tahun lalu Bhutan baru menaikkan kuota jumlah turisnya menjadi 75.000 orang per tahun. Benar, berbeda dengan negara-negara lain termasuk Indonesia yang ingin mendatangkan turis sebanyak-banyaknya, Bhutan justru menerapkan kuota agar daya tampung dan daya dukung alamnya bisa mengimbangi jumlah wisatawan.

Bahkan komunitas-komunitas adat di Nusantara juga punya “etalase ideologi” nya sendiri. Baduy Dalam atau Sedulur Sikep dengan pilihan gaya hidupnya tidak menjanjikan kekayaan materi, tapi kesejahteraan, ketenangan, dan keharmonisan seperti halnya Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi atau Kerajaan Boti di Pulau Timor.

Tapi kan mereka lemah secara militer? Apakah ideologi atau peradaban bisa bertahan jika tak mampu melindungi dirinya sendiri?

Melindungi dari apa? Kosta Rika yang sepak bolanya sampai ke Piala Dunia saja tak punya tentara. Apakah dia lantas menjadi obyek jajahan secara bergilir di antara negara-negara lain?

Jangan-jangan yang tak punya tentara atau jawara justru lebih punya banyak kawan. Sebab mereka yang tak punya pasukan, cenderung menjaga tata laku karena menyadari hanya itulah mekanisme pertahanan terbaik untuk mencegah agresor.

Dalam Islam yang saya tahu karena faktor keturunan, etalase ideologi yang kerap disebut adalah Madinah. Tapi contoh itu sudah 1.300 tahun silam, dan warga dunia sebagai target dakwah butuh diyakinkan dengan hal-hal yang dekat dengan zamannya sehingga dapat “membuat pilihan” atau setidaknya perbandingan.

Lagipula bukankah Madinah Al Munawarah juga terwujud tanpa perlu perang?

Lantas bagaimana dengan “Islamic State”? Mendirikan negara untuk peperangan itu sendiri? Mengapa tidak memulai dari sebuah gerakan yang membuktikan bahwa ekonomi non-riba jauh lebih mensejahterakan, dan untuk membuktikan itu, tak perlu dimulai dari level negara.

Kerajaan Boti membuktikan doktrinnya bahwa mempidana pencuri bukan solusi mengatasi kriminalitas. Pencuri di Boti justru akan disantuni dalam bentuk barang yang dicuri. Resep ini mereka terapkan dan diyakini berhasil menekan angka kriminalitas. Mereka melakukannya tanpa perlu merasa harus mendirikan negara (nation state) terlebih dahulu.

Inilah etalase sebuah ideologi atau peradaban. Dakwah seperti ini jauh lebih efektif, daripada memaksakan sebuah ide yang mereka sendiri belum tentu sanggup melakukannya, tapi justru memaksakannya lewat jalan kekerasan kepada orang lain.

Negara seperti ini akan bangkrut sejak dari ide. Kalau pun berhasil berdiri, harganya akan sangat mahal.

Lagipula bagaimana kita percaya tujuan membuat negara demi kemaslahatan, jika ia justru dibangun di atas genangan darah?[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Djulaidi Kasim Jabat Plt Kakanwil Kemenag Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Menteri Agama RI Jenderal (Purn) Fachrul Razi menunjuk Drs Djulaidi Kasim, M. Ag sebagai...

Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Bupati Bireuen

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pemerintah Aceh menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Bupati Bireuen, Saifannur, di Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya, Kota...

Bupati Bireuen Saifannur Meninggal Dunia

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Bupati Bireuen, Saifannur, dikabarkan meninggal dunia di Rumah Sakit Siloam Dhirga Surya, Kota Medan, Sumatera Utara. Ia menghembuskan nafas...

Panglima Militer Thailand Belajar Penanganan Konflik dan Teken Kerja Sama di Aceh

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand atau Royal Thailand Army (RTA), Jenderal Apirat Kongsompong, melakukan kunjungan ke Aceh, pada Selasa...

Bruno Dybal Resmi Diperkenalkan sebagai Pemain Persiraja di Liga 1

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Manajemen Persiraja Banda Aceh secara resmi memperkenalkan Bruno Dybal sebagai pemain barunya di Liga 1 2020. Bruno Dybal merupakan...

More Articles Like This