Wednesday, February 26, 2020

Delapan Doktor Bedah Filsafat Agama

Must Read

Ganja

Polisi Kota Besar Banda Aceh, menggelar hasil tangkapan 3,5 ton paket ganja yang dibawa dalam sebuah truk barang di...

‘The Big Four’ Mulus

INGGRIS. acehkita.com-Tiga dari empat tim papan atas Liga Inggris meraup poin penuh pada lanjutan Premier League, Sabtu (4/4)....

FOTO | Bayi Myanmar Lahir di Aceh

Petugas kesehatan memeriksa kondisi Putri Malahayati yang masih berumur satu hari, bayi pasangan warga Myanmar Abdul Wahed dan Nur...

Stunting dan JKN Jadi Isu Utama Peringatan Hari Kesehatan Nasional 2019

Bukhari, Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Aceh, menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-55 Tahun...
Redaksi
Redaksihttp://www.acehkita.com
ACEHKITA.COM hadir sejak 19 Juli 2003. Kami bisa dihubungi via @acehkita, redaksi[at]acehkita[dot]com

BANDA ACEH – ACEHKITA.COM | Sebanyak delapan Doktor dan satu Profesor dari berbagai disiplin ilmu agama melakukan lokakarya Program Study Filsafat Agama, yang digagas oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry di Asrama Haji, Banda Aceh, siang (1/3) tadi.

Program studi tersebut dibuka untuk menyahuti keinginan masyarakat dalam mempelajari dan mendalami filsafat secara lebih mendalam.

“Kajian filsafat agama penting sekali, dan merupakan sebuah solusi, dimana konflik agama terjadi dimana-mana. Faktor munculnya konflik juga karena faktor filsafat agama sangat-sangat kurang, bahkan bisa dihitung jari,” kata Syamsul Rizal, Dekan Fakultas Ushuluddin.

Sementara itu, ketua panitia lokakarya, Damanhuri Basyir menyebutkan, program study yang digagas Fakultas Ushuluddin tersebut sudah mendapat restu dari Kementerian Agama. “Satu-satunya prodi filsafat agama yang yang direstui adalah Aceh untuk tingkat S-1, Lampung S-2, dan S-3 di Bandung,” jelas Damanhuri.

Ia menambahkan, setelah dilakukan lokakarya bersama para pemikir untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Aceh, maka akan dibawa ke Jakarta, untuk mendapatkan legalitas yang sah, sebagai prodi baru, di Ushuluddin.[]

4 COMMENTS

  1. Kisah tentang dua meteran buatan manusia

    Dunia filsafat ujungnya bermuara atau mengkristal kepada lahirnya apa yang disebut sebagai ‘kacamata sudut pandang’ dimana kacamata sudut pandang itu dijadikan manusia sebagai ukuran,meteran atau parameter dalam mengukur segala suatu dimana yang sesuai dengan meteran atau yang bisa diukur oleh parameter yang telah ditetapkan oleh kacamata sudut pandang itu disebut sebagai ‘kebenaran’ dan yang tidak sesuai disebut sebagai ‘ketidak benaran’.dan dalam dunia filsafat walau teramat banyak mazhab yang dilahirkan tapi meteran yang paling umum digunakan atau yang paling dikenal secara umum oleh umat manusia adalah rasionalisme atau kacamata sudut pandang yang menjadikan pemahaman logika akal sebagai ukuran kebenaran,artinya segala suatu yang bisa difahami oleh cara berfikir logika akal manusia akan diterima sebagai kebenaran dan segala suatu yang tidak bisa difahami oleh cara berfikir logika akal manusia akan ditolak sebagai kebenaran.
    Ketika sains berkembang pesat dan telah berada dalam posisi yang mapan maka pada ujungnya ia bermuara atau mengkristal kepada melahirkan apa yang disebut sebagai kacamata sudut pandang yang dalam dunia sains kacamata sudut pandang yang paling umum digunakan itu dinamakan ‘empirisme’ artinya sebuah kacamata sudut pandang yang menjadikan tangkapan panca indera sebagai ukuran kebenaran sehingga segala suatu yang bisa ditangkap oleh dunia indera akan dianggap sebagai kebenaran (berasas ilmiah) dan segala suatau yang tidak bisa ditangkap oleh dunia indera akan dianggap sebagai ketidak benaran.
    Pada golongan orang tertentu misal seorang yang menyatakan diri sebagai seorang yang berpandangan ‘modern’ atau seorang yang berpandangan ‘atheis’ atau ‘materialistik’ biasanya kedua meteran ini menyatu menjadi kesatuan kacamata sudut pandanag artinya pada orang orang tertentu dua kacamata sudut pandang ini berkolaborasi menjadi kesatuan.
    Tapi yang mesti digaris bawahi adalah kacamata sudut pandang atau konsep ‘rasionalisme’ dalam dunia filsafat itu sebenarnya berubah ubah bahkan perubahannya sebenarnya sangat drastis,dimasa silam zaman para filosof ‘klasik’ konsep cara pandang rasionalisme masih bisa diartikan sebagai murni cara berfikir tertata-sistematis tanpa ketergantungan secara mutlak kepada tangkapan dunia indera,dengan kata lain rasionalisme dizaman paraf ilosof klasik masih bisa dikatakan masih mengacu kepada rasionalisme murni.tapi dizaman filsafat ‘kontemporer’ ketika sains telah mewujud menjadi sebuah kekuatan tersendiri maka rasionalisme murni dalam dunia filsafat makin luntur dan nyaris hilang,bahkan para filosof kontemporer seperti beramai ramai menyerang konsep rasionalisme murni itu dengan sesuatu yang mereka istilahkan sebagai ‘dekonstruksi’,sehingga kita bisa melihat dalam filsafat post mo ciri rasionalisme itu sudah nyaris tidak ada.dan itu semua terjadi karena pengaruh kacamata sudut pandang sains atau konsep ‘empirisme’ yang makin menguat ketika dunia sains makin berkembang pesat.
    (Tapi anehnya pada kelompok orang tertentu ketika berhadapan dengan agama dua kacamata sudut pandang atau dua meteran itu digunakan secara bersama sama).
    Jadi pada prinsipnya dengan eksistnya filsafat dan sains manusia memegang dua meteran yang ia jadikan sebagai ukuran atau parameter untuk mengukur segala suatu termasuk ketika berhadapan dengan agama.
    Nah sekarang berbagai problem yang bersifat kompleks terjadi ketika manusia berhadapan dengan apa yang disebut sebagai ‘realitas yang bersifat menyeluruh’,artinya yang disebut sebagai ‘realitas’ itu ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan manusia,realitas itu tidak seluruhnya bisa ditangkap oleh dunia indera manusia sebab teramat banyak realitas gaib yang tidak bisa ditangkap oleh dunia indera manusia,dengan kata lain realitas itu terdiri dari dua dimensi antara yang abstrak/gaib dengan yang konkrit.begitu juga realitas itu tidak seluruhnya bisa ditangkap oleh cara berfikir logika akal manusia sebab teramat banyak realitas yang tidak bisa difahami oleh cara berfikir logika akal manusia.dengan kata lain realitas itu memiliki dua sisi ada yang bisa difahami oleh akal dan ada yang tidak bisa difahami oleh akal manusia.
    Orang orang tertentu suka memaksakan untuk menggunakan dua kacamata buatan manusia yang dari dunia filsafat-sains itu untuk mengukur segala suatu (termasuk kala mengukur dan menilai agama) sehingga suatu yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak bisa ditangkap oleh dunia indera manusia dideskripsikan sebagai ‘ketidak benaran’.(padahal ketika digunakan untuk mengukur agama maka kacamata sudut pandang buatan manusia itu bisa diibaratkan kacamata tukang kayu didaratan yang digunakan untuk mengukur lautan yang teramat dalam).
    Nah sekarang tinggal satu institusi yang memberi manusia kacamata sudut pandang yang bisa digunakan secara fleksibel untuk melihat dan mengukur segala suatu yang ada dalam realitas keseluruhan (baik itu realitas yang bersifat abstrak maupun yang bersifat konkrit ) yaitu : agama (Ilahiah-bukan agama mitos).
    Mengapa agama sering distigma kan oleh orang yang bersandar pada filsafat-sains sebagai ‘hanya dongeng’,’irrasional’,’sesuatu yang tidak berdasar ilmu’ dlsb. itu sebenarnya bukan agama yang salah tapi agama yang tidak difahami ,agama yang tidak bisa diukur dan dinilai karena manusia menggunakan ukuran-parameter yang tidak cocok atau yang terlalu pendek dan terlalu kecil bila digunakan untuk mengukur dan menilai agama,sama dengan ibarat meteran tukang kayu yang berupaya untuk mengukur lautan nan dalam.tapi cara pandang terhadap agama melalui dua kacamata sudut pandang buatan manusia seperti itu masih terjadi hingga saat ini,dipakai oleh golongan intelektual tertentu,bahkan di lembaga pendidikan tertentu menjadi suatu kewajiban.

  2. Agama versus filsafat

    Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang benturan antara agama dan filsafat maka kita harus terlebih dahulu mengetahui hakikat agama dan juga filsafat sehingga kala terjadi benturan antara keduanya kita bisa memahami latar belakang terjadinya benturan itu serta bisa menempatkan dimana agama harus diletakkan dan dimana filsafat harus diletakan.
    Secara simpel tapi sangat mendasar kita harus menempatkan agama sebagai konsep-sudut pandang Tuhan dan filsafat sebagai konsep sudut pandang manusia dan definisi demikian sebenarnya cukup untuk melukiskan secara mendasar apa itu agama dan apa itu filsafat.mengenai karakteristik dari keduanya kita akan mengetahuinya secara lebih mudah bila kita telah melekatkan agama dengan Tuhan dan filsafat dengan manusia.kita akan mengetahui dan memahami sisi manapun dari agama bila itu selalu dikaitkan dengan Tuhan dan kita akan mengetahui sisi manapun dari filsafat bila itu selalu dikaitkan dengan manusia.mengenai kelebihan dan kekurangannya pun akan kita ketahui tinggal kita melekatkan agama dengan sifat Tuhan dan filsafat dengan sifat manusia.
    Sebaliknya kita akan menemukan kerancuan apabila kita menyandarkan atau mengembalikan agama kepada manusia,misal menganggap agama sebagai ‘sesuatu yang berasal dari manusia’ atau ‘ciptaan’ seorang yang disebut ‘nabi’dan disisi lain mengkultuskan filsafat sebagai ‘muara kebenaran’,dengan prinsip cara pandang seperti itu agama hanya akan menjadi obyek penghakiman dan bulan bulanan filsafat.sehingga sekali lagi agama akan bisa dilihat karakteristiknya yang sejati termasuk superioritasnya manakala apapun yang ada dalam agama disandarkan pada Tuhan.
    Dengan memahami hakikat agama dan filsafat secara mendasar kita bisa mengukur : layakkah bila filsafat menghakimi agama karena itu sama dengan berarti manusia menghakimi Tuhan,bandingkan dengan bila agama menghakimi filsafat itu artinya sama dengan Tuhan menghakimi manusia.
    Setelah memahami penjelasan mendasar diatas maka kita akan meyakini bahwa bahasan apapun yang melibatkan agama dengan filsafat didalamnya akan rancu,kabur,rumit dan pelik bila tidak berangkat dari definisi pemahaman terhadap agama dan filsafat yang bersifat mendasar sebagaimana diuraikan diatas.sebagai contoh bila seseorang cenderung terlalu takjub dengan filsafat atau mengaguminya secara berlebihan sehingga ujungnya cenderung mengkultuskannya sebagai ‘simbol kebenaran’ maka dijamin kala menemukan bahasan yang bersinggungan dengan agama ia akan menemukan kerumitan yang luar biasa karena ada banyak pertentangan tajam diantara keduanya,dan ujungnya sifat mengagumi secara berlebihan terhadap filsafat akan membuat seseorang mudah bersikap apriori terhadap agama dengan memandang agama secara apriori sebagai miring dan negative dan kala menemukan enturan antara agama dengan filsafat ia akan cenderung berfihak kepada filsafat.
    Banyak nya fihak yang membuat tulisan seputar agama versus filsafat menunjukan pertama ; memang ada banyak terdapat benturan dan pertentangan antara agama versus filsafat karena keduanya berada pada dua kutub yang berbeda,kedua karena agama adalah sudut pandang Tuhan dan filsafat adalah sudut pandang manusia maka otomatis akan terdapat benturan diantara keduanya,ketiga karena dunia filsafat bukan hanya dihuni oleh orang yang beriman yang dengan rasio nya berusaha untuk membela keimanannya tapi sebenarnya mayoritas diisi oleh orang tak beriman yang pandangan pandangannya otomatis sering berbenturan dengan pandangan agama.
    Sebenarnya suatu yang baik dan benar memposisikan agama dan filsafat dalam posisi yang saling berbenturan ketimbang selalu berupaya mencari persesuaiannya,sebab dengan cara (mempertentangkan) demikian maka manusia akan mengetahui identitas masing masing secara jelas dan terang.bila kita memakai persentasi maka isi dari filsafat itu sekian persen bersesuaian dengan agama dan sekian persen bertentangan.sama dengan ibarat hitam dan putih itu bisa dipadukan dalam harmonisasi warna tapi untuk mengetahui identitas yang jelas dari apa itu ‘putih’ maka manusia harus mempertentangkannya dengan hitam,demikian pula siang dengan malam bila kita melihatnya dari satu sisi (harmonisasi) maka kita akan melihatnya sebagai keterpaduan tapi untuk mengenal makna pengertian ‘malam’ secara hitam-putih maka manusia harus mempertentangkannya dengan malam.
    Demikian kita akan bisa melihat secara jelas identitas,perbedaan,karakteristik agama bila kita membandingkannya dengan filsafat,demikian pula sebaliknya karakteristik yang khas dari filsafat kan terlihat jelas bila kita membandingkannya dengan agama.beberapa hasil tela’ah yang bisa diperoleh dari hasil saling memperbandingkan antara agama dengan filsafat diantaranya :
    1.kita bisa mengetahui bahwa apapun yang dibahas dalam agama pada ujungnya semua bermuara pada satu titik yaitu Tuhan dan hal demikian makin jelas apabila kita membandingkannya dengan filsafat sebab dalam filsafat apapun yang dibahas tidak bermuara ke satu titik tapi kebanyak kepala yaitu ke banyak pendapat dan bahkan diantara pandangan yang berbeda beda itu satu sama lain ada yang saling bersesuaian ada yang saling menguatkan tapi ada yang saling berlawanan dan saling meruntuhkan.
    2.kita bisa mengetahui bahwa kebenaran agama berasas kepada hal hal yang bersifat hakiki manakala kita membandingkannya dengan filsafat yang bila kita bandingkan dengan agama disamping ada yang mengacu kepada hal hal yang bersifat hakiki juga ada yang sering berpijak kepada hal hal yang bersifat relatif dan spekulatif.sifat hakiki itu bisa kita ketahui dari sifat pernyataan atau deskripsi yang tidak berubah ubah sehingga kebenaran yang ada dalam agama menjadi kebenaran yang baku.dan salah satu karakter dari sifat hakiki adalah ia tidak berubah oleh waktu-keadaan-situasi dlsb.berbanding terbalik dengan yang terjadi dalam filsafat maka sifat pernyataannya sering berubah ubah dari waktu ke waktu,misal sebuah pandangan diruntuhkan oleh pandangan lain seiring lahirnya pandangan baru yang dianggap lebih baik dan lebih sesuai dengan zaman.dan itulah ciri dari kebenaran yang bersifat relative adalah essensinya berubah ubah dari waktu ke waktu.sedang pada agama walau para nabi dan kita suci bergantian dari zaman ke zaman dan konsepnya disesuaian dengan keadaan zaman tetapi essensinya sama sekali tidak berubah.
    Baik agama maupun filsafat ada pada satu ruang dan waktu yang sama atau ada pada realitas yang sama dan menafsirkan realitas yang sama jadi benturan dan pertentangan sudah pasti akan selalu ada di berbagai sisi sebab agama dan filsafat menafsirkan realitas secara berbeda,agama mengikuti sudut pandang Tuhan dan filsafat mengikuti sudut pandang manusia.

    Sebagaimana selalu ditulis dalam buku buku teks filsafat para filsuf adalah orang orang yang selalu berusaha untuk menjangkau keseluruhan,sehingga keseluruhan itu terpikirkan serta selalu berusaha untuk menjangkau hakikat segala suatu sedalam dalamnya.prinsipnya dalam wacana filsafat manusia selalu berambisi untuk bisa menjangkau dan seolah ingin merangkum realitas secara keseluruha.
    Tapi dibalik ambisi yang menggebu gebu itu manusia harus realistis dan rasional sebab manusia adalah makhluk yang serba terbatas dalam segala suatu khususnya dunia panca inderanya,sehingga manusia sebenarnya harus selalu bertanya kepada dirinya : bisakah manusia menangkap dan memahami keseluruhan (realitas) tanpa Tuhan (?)
    Sebab suatu yang sangat naïf dan ironis bila disatu sisi manusia ingin berusaha untuk menjangkau keseluruhan tapi disisi lain manusia menolak deskripsi Tuhan perihal realitas yang berada diluar jangkauan manusia untuk bisa menangkapnya.padahal manusia diberi alat berfikir yang bisa menangkap kebenaran yang berasal dari realitas yang abstrak itu yaitu akal (sebab akal memiliki dua mata ia bisa melihat kedunia abstrak juga ke dunia konkrit).tapi manusia (yang bersudut pandang materialist) terlalu orientasi kepada tangkapan dunia indera nya sehingga konsep konsep Ilahiah yang (sebagian) berasal dari realitas yang bersifat abstrak selalu dianggap sebagai suatu yang ‘irrasional’ artinya selalu menolak bila akal nya harus digunakan untuk memahami konsep yang berasal dari realitas dunia abstrak.
    Akibat dari penjelajahan berfikir yang tanpa tuntunan petunjuk Tuhan itu kita bisa melihat wacana filsafat ujungnya hanya bermuara pada banyaknya pertanyaan pertanyaan yang bahkan hingga hari ini tak bisa dijawab oleh filsuf manapun.ambil contoh terhadap pertanyaan : mana yang lebih dahulu ada ayam atau telor,laki laki atau wanita (?)………semua adalah pertanyaan – pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh sang pencipta : hakikatnya Tuhan yang menciptakan laki laki terlebih dahulu lalu wanita,hakikatnya Tuhan yang menciptakan ayam terlebih dahulu lalu ayam itu bertelur.
    Begitu pula terhadap banyak pertanyaan lain yang hingga saat ini bertumpuk dalam dunia filsafat seperti : apa sebenarnya hakikat hidup,apa sebenarnya hakikat realitas,kemana jiwa kita setelah kematian (?) semua hanya bisa dijawab oleh yang maha pencipta.(tidak realistis dan tidak rasional bila manusia yang menjawabnya,dan sangat realistis dan sangat rasional bila Tuhan yang menjawabnya).
    Tulisan ini untuk mengingatkan bahwa kemanapun filsafat pergi dan setinggi apapun ia berusaha menjangkau ingat ia berasal dari keserba terbatasan manusia,sebab itu sangat tidak layak bila kacamata filsafat digunakan untuk menghakimi agama,yang rasional adalah agama yang harus menghakimi filsafat sehingga yang benar dan yang salah yang ada atau lahir dari dunia filsafat bisa kita pilah.
    Karena filsafat berasal dari kacamata sudut pandang manusia maka apa yang lahir dari filsafat harus selalu kita bagi kedalam dua kategori : ada yang benar dan ada yang salah,keliru besar bila ada yang mengkultuskan filsafat sebagai ‘sumber atau ibu atau muara kebenaran’ sebab bila kita analisis dalam dunia filsafat teramat banyak pandangan atau pemikiran yang salah.dan apa atau siapa yang bisa menghakimi filsafat (?) tentu bukan manusia sebab bila manusia menghakimi manusia itu tak akan pernah ada ujungnya sebab masing masing akan cenderung selalu berusaha membela diri,masing masing akan selalu menganggap hasil pemikirannya sebagai ‘kebenaran’.

  3. ‘filsafat islam’ adalah kalimat yang salah sebab filsafat adalah sesuatu yang berasal dari manusia sedang agama adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan.yang benar adalah ‘filsafat orang Islam’ atau ‘filsafat orang Yunani’.hal ini harus diluruskan jangan sampai pemikiran yang berasal dari filosof muslim seperti Ibnu sina,Ibnu rusyd dll. (pemikiran yang salahnya) dianggap berasal dari agama Islam,sebab pemikiran orang Islam (atau orang yang dianggap ‘islam’) belum tentu bersesuaian dengan konsep Tuhan yang ada dalam agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Jajan Pakai Uang Palsu, Dua Warga Aceh Ditangkap Polisi

LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM - Dua warga Aceh ditangkap polisi di Kota Lhokseumawe, setelah jajan makanan dan minuman dengan uang...

Diskusi Quo Vadis Rencana Investasi Aceh, Yuk!

Institute for Strategic and Policy Studies (ISPS) yang berkantor di Jakarta, bekerja sama dengan Aceh Bisnis Club (ABC) Jakarta, dan Donya Ekonomi Aceh (DEA),...

Wali Nanggroe Bertemu Dubes Uni Eropa Bahas MoU Helsinki

JAKARTA | ACEHKITA.COM - Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-haythar bertemu Duta Besar (Dubes) Uni Eropa delegasi untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket, membahas...

Daftar Nama 22 Petugas Haji 2020 Kloter Aceh yang Lolos Seleksi

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh mengumumkan 22 nama calon petugas haji Aceh yang lulus dalam seleksi petugas haji...

Busana Rumoh Syar’i di Aceh Wedding Expo 2020 Dapat Pujian dari Ketua DWP

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Setda Aceh, Safrida Yuliani, memuji keindahan busana muslim hasil karya Rumoh Syar'i. Ia terpukau menyaksikan peragaan model yang mengenakan...

More Articles Like This