Cara Komunitas di Aceh Jaga Ketahanan Pangan Saat Pandemi dengan Kearifan Lokal

Cara Komunitas di Aceh Jaga Ketahanan Pangan Saat Pandemi dengan Kearifan Lokal
Webinar Strategi Ketahanan Pangan Aceh dan Inisiasi Komunitas Menghadapi Krisis Pandemi COVID-19. (Foto: Dok. Katahati)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Pandemi COVID-19 telah menimbulkan krisis di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang perekonomian. Krisis ini menyebabkan resesi perekonomian yang di antaranya ditandai dengan berkurangnya produksi dan meroketnya harga barang dan ketidaktersediaannya bahan pangan.

Jika sebelumnya pemerintah mengaku ‘dipaksa’ untuk impor sebagai affirmative action untuk menjawab kebutuhan masyarakat, COVID-19 membuat segalanya tidak mungkin sehingga gerakan pemenuhan pangan berskala keluarga menjadi inisiatif penting dan luar biasa.

Kearifan lokal Aceh yang sarat pengetahuan tentang bagaimana ketahanan pangan dan mata rantai perputaran ekonomi sudah menunjukkan kita banyak hal dengan kata-kata bijak yang diucapkan Tgk. Chik Peusangan “Jaroe Bak Langai, Mata U Pasai”. Kata-kata bijak ini kemudian menjadi popular dan kembali disampaikan oleh banyak tokoh Aceh dalam berbagai pertemuan.

Dalam webinar bertema Strategi Ketahanan Pangan Aceh dan Inisiasi Komunitas Menghadapi Krisis Pandemi COVID-19 pada Rabu (28/10), Reza Idria sebagai penanggap diskusi kembali mengulang kata-kata bijak tersebut dalam inisiasinya mengembangkan Blok-B, nama untuk tempatnya bercocok tanam sejak April 2020 lalu.

Diskusi diawali oleh kata sambutan yang disampaikan Raihal Fajri dari KakiLangit sebagai tuan rumah pengetahuan masyarakat sipil Aceh. Inisiator kegiatan webinar yang bertepatan dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahunnya ini pada tanggal 28 Ontober.

Kegiatan webinar itu merupakan hasil kerja sama dengan SEJAJAR Nasional dan SEJAJAR Aceh yang beranggotakan Katahati Institute, Kontras Aceh, Flower Aceh, kamiKITA, Solidaritas Perempuan Aceh, KakiLangit-Rumah Pengetahuan Masyarakat Sipil Aceh, Serikat Inoeng Aceh (SeIA), RPUK, Balai Syura, Puan Addisa, AWPF, LBH Apik dan PKBI Aceh.

Dalam sambutannya, Raihal menyampaikan bahwa inisiasi ini merupakan ruang berbagi pengetahuan para inisiator ketangahanan pangan berbasis komunitas di Aceh yang menghadirkan empat orang narasumber dan satu orang penanggap. Keempat narasumber yang dihadirkan yakni Henny Cahyanti dari KamiKita Community Centre, Juliani dari Aceh Urban Farming Club, Sri Herlina Wati dari Kwt Meutuah Tani Gampong Peulanggahan, dan Rubama dari Gampong Nusa.

Untuk membangkitkan gairah Hari Sumpah Pemuda, pemuda-pemudi perwakilan dari kamiKITA menyanyikan lagu Bangunlah Pemuda-pemudi sebagai penyemangat dan pengantar diskusi yang dipandu oleh Moderator Azharul Husna dari Kontras Aceh.

Raihal menyebut, inisiasi berbagi pengetahuan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan antar komunitas ini menjadi pengetahuan bersama yang bersumber dari komunitas yang ada di Aceh, khususnya Kota Banda Aceh untuk kemudian bisa direplikasikan di tempat lainnya dalam menginisiasi alternative ketahanan pangan dalam masa pandemic dengan berbasis komunitas dan menggunakan media yang bersumber dari sekitar kita yang tersedia.

Ia menjelaskan, berdasarkan paparan ke empat narasumber dan penanggap, inisiasi-inisiasi tersebut lahir dari kegelisahan menghadapi krisis pangan saat pandemi COVID-19 mulai mengancam. Keempat komunitas inisiator ini tentu saja menhadapi berbagai tantangan dalam upayanya menggalang jaringan komunitas dan mengelola tanaman pangan tersebut.

KamiKITA misalnya, komunitas ini beralamatkan di Gampong Mulia ini merupakan komunitas pemuda dan pemudi Lintas Etnik dan Agama yang mengusung konsep urban farming dengan memadukannya training literasi anggaran dan untuk menjaga kekompakan memadukan dengan kegiatan outdoor, kampanye serta riset untuk pengembangannya ke depan. Kegiatan pembuatan pupuk kompos merupakan proses daur ulang sampah organic dari sumber pangan yang diolah dan juga menjadi kegiatan pembersihan gampong.

Kegiatan serupa juga dilakukan oleh Aceh Urban Farming Club, namun modelnya dipadukan dengan proses sharing pembelajaran dan berbagi bibit antar anggota komunitas untuk menjalin silaturahmi serta melakukan kampanye melalui sosial media masing-masing pembelajaran. Komunitas ini juga pernah menerima kunjungan kelompok komunitas lainnya dari kabupaten lain di Aceh untuk belajar bercocok tanam dengan gaya perkotaan. Lahan luas bukanlah kendala bagi komunitas ini, karena atap rumah dan berbagai media lainnya bisa menjadi alternative bercocok tanam jika tidak memiliki lahan ataupun pekarangan rumah yang luas.

Menariknya komunitas yang bermula dari 10 anggota ini terus mengembangkan komunitasnya dengan mengajak menanam dengan menggunakan platform sosial media dan membuat grup WhatsApp yang saat ini telah beranggotakan 44 anggota yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dari beragam latar belakang mulai dari ibu rumah tangga, aktivis lingkungan, aktivis perempuan, bidan, dosen, pensiunan, petani, pimpinan dayah yang berada di berbagai wilayah Aceh terutama di Banda Aceh.

Komunitas yang juga telah lama ada dan mengkampanyekan ketahanan pangan lainnya adalah Gampong Nusa, yang memadukan konsep ketahanan pangan dengan reformasi meja makan dan merawat pengetahuan lokal menuju ketahanan pangan dan swasembada pangan. Dan ini semakin ditingkatkan saat pandemi mengancam. Gampong Nusa merupakan gerakan berbasis potensi lokal dengan melakukan pemetaan potensi secara partisipatif dan saling memperkuat sesame generasi muda sebagai penerus pembangunan.

Memanfaatkan media tanam yang ada disekitar gampong mereka telah memulai ini hampir sepuluh tahun yang lalu dengan memulai dengan asupan makanan berbahan pangan lokal dari meja makan. Gampong Nusa juga mempromosikan makanan lokal melalui festival dan oleh-oleh khas Gampong Nusa bagi wisatawan lokal bahkan mancanegara yang berkunjung ke gampong wisata ini. Mengusung semboyan Bangga dengan Kuliner Lokal, Gampong Nusa terus berbenah hingga bisa mewujudkan ketahanan ekonomi berbasis pangan lokal.

Sedangkan Kwt Meutuah Tani Gampong Peulanggahan awalnya merupakan inisiatif komunitas ibu-ibu pelanggahan yang kemudian difasilitasi oleh Pemerintah Aceh melalui Program Gampang yang diluncurkan oleh Pemerintah Aceh melalui program ketahanan pangan masa pandemi. Program pemerintah ini baru menyasar enam komunitas di Banda Aceh. Komunitas ini mulai mengmbangkan lele juga yang lebih dikenal dengan ledukdumber, yang memadukan sayuran kangkong dan lele dalam wadah yang sama sebagai alternatif media bercocok tanam. Konsep urban farming juga diterapkan di komunitas tersebut.

Sementara itu, menurut Reza Idria sebagai penanggap dalam webinar tersebut, pandemi memberikan hikmah bagi masyarakat untuk melahirkan inisiatif bercocok tanam dengan berbagai media. Karena krisis pangan bisa membunuh manusia lebih dari pandemi itu sendiri.

Reza Idria dalam inisiasi Blok B sering memposting kegiatannya melalui sosial media untuk penyemangat agar tumbuh inisiatif lainnya. Nama Blok B sendiri merupakan sindiran untuk Pemerintah Aceh dalam kegiatannya mengembangkan potensi migas sebagai alternatif sumber daya energi. Padahal menurutnya “mimpi blok migas” itu bisa lebih nyata jika pemerintah melihat potensi agraria yang dimiliki Aceh.

Ia menyebut, pengalaman empiris Blok B-nya saja yang baru berkembang, tiga bulan sudah menghasilkan. Bagaimana jika ini dikembangkan lebih masif dan terstruktur kemudian selangkah lagi dengan membuka akses pasar.

Moderator webinar, Azharul Husna dalam kesimpulannya menyampaikan bahwa menjaga kewarasan saat pandemi dengan bercocok tanam dan mengembangkan potensi pangan dengan menjaga kearifan lokal serta penganan lokal, menjadi penting sehingga sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. “Sehingga kita masih bisa menemukan menu makanan rumahan yang terjamin kualitasnya serta khas, seperti ie bu peudah di rumah-rumah karena tradisi lidah generasi tetap terpelihara. Ini bisa terwujud jika kita tetap menjaga potensi pangan kita dan literasi antar generasi,” sebutnya.[RIL]

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.