Benteng Bersejarah di Lamreh Kurang Diperhatikan

0
1668

ACEH BESAR | ACEHKITA.COM — Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, mempunyai situs sejarah Aceh yang gemilang. Di sini ada Benteng Inong Balee yang merupakan markas armada pasukan yang dipimpin Laksamana Malahayati, dan Benteng Kuta Lubok. Meski bersejarah, situs ini tak tergarap maksimal untuk tujuan pariwisata. Bahkan, salah satu benteng tak terawat.

Pantauan acehkita.com, Benteng Inong Balee tersebut hanya berupa tembok yang digunakan pasukan perang Aceh menahan dari gempuran tentara Belanda. Benteng ini merupakan markas pasukan Inong Balee yang dikomandoi oleh Laksamana Malahayati. Benteng inilah yang digunakan Malahayati untuk melawan penjajah Belanda.

Untuk bisa mencapai benteng tersebut, pengunjung harus melewati jalan sempit yang bisa dilewati dengan berjalan kaki atau bersepeda motor. Jalan setapak ini terdapat tidak jauh dari Lamreh Village atau SD Lamreh. Jalan tersebut belum teraspal hanya bebatuan. Di pintu masuk dari Jalan Banda Aceh-Laweueng, tidak ada petunjuk yang menyatakan bahwa di dalam terdapat benteng sejarah.

Benteng Inong Balee terlihat bersih karena sudah diurus oleh pemerintah Aceh. Kiri kanan benteng merupakan perkebunan warga. Di benteng tersebut terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan “Benteng Inong Balee dibangun oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayyidil Mukammil (1589-1604) ini adalah pusat pertahanan untuk wilayah perairan Selat Malaka. Selain itu, benteng ini pun digunakan sebagai asrama bagi laskar Inong Balee (janda yang suaminya gugur di medan perang –red.)”.

Prasasti itu dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh. Di prasati itu, terdapat tiga bahasa yang yaitu bahasa Aceh, Indonesia dan Inggris.

Di sudut lain Inong Balee, terdapat Benteng Kuta Lubok. Namun, saat bertandang ke Lamreh pada Rabu, 20 Juni lalu, acehkita.com tak sampai ke sana. Seorang warga Lamreh, Agam, mengatakan, kondisi Benteng Kuta Lubok luput dari perhatian. Jalan yang menuntun kita ke sana dipenuhi semak belukar.

Untuk mencapai Kuta Lubok, kata Agam, kita harus melewati jalan yang bisa dilalui sepeda motor. Ini merupakan jalan yang digunakan para pekebun saban hari. Jika hujan, jangan coba-coba bersepeda motor ke sana, jalannya berlumpur.

Menurut Agam, setelah tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, Lubok tak terurus. “Sebelum tsunami terawat dengan baik. Karena ada warga yang membersihkan, tapi sekarang tidak ada lagi yang urus,” ujar Agam.

Padahal, masyarakat di sana yakin di sana terdapat makam orang Aceh tempo dulu, pada masa Kesultanan Aceh. Bahkan, dipercaya ada sultan Aceh yang dimakamkan di sini.

“Sayang, benteng itu dibiarkan begitu saja. Pemerintah sepertinya tidak peduli dengan benda sejarah,” kata Agam. []

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.