Wednesday, July 6, 2022
spot_img

Balada Sambal Balado

Sarapan andalan saya di warkop Cek Pan yang menemani secangkir kopi pahit adalah sebungkus bu prang, istilah untuk nasi gurih yang dibungkus dengan daun pisang. Ukurannya lebih kecil dari nasi bungkus versi siang, dengan harga yang tentunya lebih ekonomis (istilah dunia marketing untuk harga murah).

Varian nasi gurih di warung sederhana ini hanya dua, pertama ikan goreng plus sambal balado, dan yang kedua telur divariasikan ke dalam wujud telur rebus di belah dua atau telur dadar tak ketinggalan sambal balado.

Indikator untuk membedakan mana nasi gurih pakai ikan balado atau telur yaitu merujuk pada tusukan lidi sebagai perekat bungkus daun pisang. Tusuk lidi yang utuh atau tidak patah adalah penanda untuk nasi gurih ikan, sementara tusuk lidi patah adalah ciri-ciri nasi pakai telur. Sampai detik ini saya belum menemukan siapa penemu ide “brilliant” pembeda nasi gurih berbasiskan tusuk lidi patah dan non-patah tersebut.

Untuk memperkaya rasa, di atas nasi itu ditaburi asesoris standar berupa kacang tanah goreng, tauco, serundeng, tak lupa kerupuk bercorak merah putih. Saya sering berfikir, betapa hebatnya “nasionalisme” orang Aceh, bahkan untuk urusan kuliner sekalipun.

Namun, pagi itu, harapan untuk sarapan secara “elegan” tak seperti yang rencanakan. Kekecewaan saya bermula saat melihat semua nasi gurih yang diletakkan pada sebuah meja di tengah-tengah warkop itu menggunakan lidi patah. Benar, seratus persen nasi gurih pada pagi itu menggunakan branding-nya telur.

Saya tak percaya, dan tak bisa menerima kenyataan saat tidak mendapati kehadiran ikan goreng balado kesukaan. Saya curiga, jangan-jangan ada “konspirasi” yang ingin menggagalkan kenikmatan sarapan pagi itu. Satu persatu bu prang saya buka lidinya, betul memang telur isinya.

Pada bungkus ke lima, terdengar suara yang sangat familiar, suara pemilik warkop yang juga sahabat baik saya, “Hari ini gak ada ikan, apalagi suree. Nikmati saja telur ‘impor’ itu.”

Cek Pan sangat paham kalau pelanggan setianya ini sangat doyan ikan, terutama ikan tongkol atau suree balado. Cek Pan juga sangat tahu kalau telur yang beredar di Aceh dipasok dari provinsi tetangga, oleh sebab itu dia sebut telur “impor.”

Sebagai salah seorang pecinta ikan “garis keras” saya bertanya, “Pakon? Kok bisa gak ada ikan balado pagi ini.”

“Harga ikan mahal kali sekarang, apalagi suree. Cabe merah juga. Kita sedang implasi.”

Wouww, bukan karena tingginya harga ikan dan cabe merah yang membuat saya kaget. Tapi, teman baik saya yang lulusan SMA ini berbicara tentang indikator ekonomi. Lalu saya mencoba membenarkan spelling-nya, sambil bertanya lagi.

“Inflasi, nyan yang beutoi. Dari mana kamu tahu tentang inflasi?”

Jeeh hai, kamu yang sekolah tinggi-tinggi masak gak tau apa tu implasi. Cie neu baca koran. Baca itu yang dibilang bapak yang kerja di kantor BPS itu.”

Buseet, keren kali kawan saya ini. Ngomongnya tentang data statistik. Kemudian ia bertanya balik ke saya.

“Tapi saya masih heran. Kenapa tiap-tiap harga barang naik pemerintah kita seakan-akan gak berbuat apa-apa. Malah, pemerintah juga ikut menaikkan harga barang lainnya, seperti BBM. Kiban nyan Pak Dos?”

Wah, kalau Cek Pan sudah bertanya dan diakhiri dengan sebutan Pak Dos, saya kok merasa tertantang. Seakan-akan dia ingin menguji kompetensi ilmu saya. Seolah-olah dia mau bilang, sebagai orang kampus apa yang bisa saya lakukan menghadapi situasi seperti ini. Harga barang tinggi, masyarakat tak punya daya beli.

Saya cuma mampu menjabarkan padanya tentang mekanisme pasar bebas seperti saat ini, tentang ketersediaan barang yang berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya harga barang tersebut. Sementara intervensi pemerintah tidak bisa terlalu jauh. Pemerintah tidak bisa ikut campur misalnya dengan memveto pedagang untuk menjual barang dengan harga murah. Bisa marah Adam Smith nanti, papar saya setengah bercanda.

“Jadi, kalo begitu untuk apa kita memilih pemerintah, untuk apa pilih gubernur dan bupati, kalo mereka tak bisa menjamin harga murah, setidaknya cabe dan ikan?”

“Atau, jangan-jangan pemerintah kita tidak makan cabe? Tidak makan eungkot suree balado seperti kita.”

“Betul juga itu, Cek. Jangan-jangan mereka gak makan nasi prang kayak kita. Jangan-jangan mereka nggak sempat makan gara-gara memikirkan kita rakyatnya yang gak bisa makan suree balado?”

Kami tertawa bersama. Tawa dengan nada lirih karena tak bisa menikmati ikan balado. Saya mencoba berfikir positif dan mencari solusi dari diskusi ini.

“Ya sudahlah, kita jangan bicarain tentang pemerintah lagi. Nanti dituduh makar. Padahal kita cuma mau makan aja. Jangan ganggu pemerintah. Mereka pasti lagi sibuk mikirin kita.”

“Bisa jadi saat ini mereka lagi sibuk cari celah dan cara supaya anggaran negara bisa dipakai untuk subsidi cabe dan eungkot suree. Makanya pemerintah dan parlemen perlu rapat sampe ke Jakarta, demi kepentingan rakyat.”

Cek Pan sepakat. Ia juga menambahkan, “Kalo begitu, nyan wajeb ta pileh calon pemimpin yang punya program, visi dan misi dalam mengurangi harga campli. Kita perlu pemimpin yang peduli pada keberlanjutan tongkol balado.”

Saya tersenyum, sambil menikmati kopi pagi. Walaupun tanpa nasi gurih ikan balado, bagi saya hidup ini harus selalu disyukuri.[]

*Banda Aceh, 21 Januari 2017

Fahmi Yunus
Fahmi Yunushttp://ACEHKITA.com
Fahmi Yunus adalah periset komunikasi massa dan studi pembangunan.

Baca Tulisan Lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Stay Connected

0FansLike
21,547FollowersFollow
23,400SubscribersSubscribe
- Advertisement -

TERBARU