AJI Dorong Pendirian Serikat Pekerja di Perusahaan Media

0
2336

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) terus mendorong semua pekerja media massa baik nasional maupun daerah agar mendirikan serikat kerja baik di perusahaan tempat pekerja tersebut bekerja maupun serikat pekerja berbasis profesi.

Sekretaris Jenderal AJI Indonesia, Arfi Bambani saat menjadi pemateri pada Training on Organizing the Unorganized “Pekerja Media Bersatu, Berserikatlah” di Hotel Grand Aceh pada 19-20 Maret 2016 menyebutkan, saat ini sedang tren semakin sedikit jurnalis yang bekerja di media, tidak memiliki tuan, tetapi tetap berkarya dan lebih merdeka.

“Selain itu, juga banyak jurnalis khususnya anggota AJI di seluruh Indonesia yang bekerja sebagai kontributor dan freelance,” sebut Arfi dalam training yang didanai oleh salah satu Serikat Pekerja di Belanda itu.

Arfi mengatakan, salah satu cara memperjuangkan kesejahteraan pekerja media adalah dengan dengan memperkuat serikat pekerja. Dengan adanya serikat pekerja yang kuat, maka dapat mendorong perusahaan media untuk memahami hak-hak pekerja mereka.

“Selain itu, juga harus didukung dengan serikat pekerja profesi, namun sejak kongres AJI tahun 2008, diputuskan, AJI bukan lagi organisasi serikat pekerja media. Ke depan, AJI harus kembali menjadi serikat pekerja profesi,” ujar Arfi.

Anggota Divisi Serikat Pekerja AJI Banda Aceh Hendra Saputra menyebutkan, setelah tsunami dan konflik berakhir di Provinsi Aceh, media perkembang dengan pesat, banyak media mulai bermunculan, baik itu, media cetak, TV, radio bahkan media online.

“Namun, kondisi pekerja media di Aceh belum mendapatkan gaji yang layak, hanya sebagaian kecil media yang menggaji pekerjanya sesuai degnan UMP Rp 2.182.000 per bulan,” sebut Hendra.

Mirisnya lagi, sambung Hendra, sebagian besar jurnalis di Aceh tidak ada gaji pokok dan tunjangan, mereka hanya dibayar perberita. Hal ini juga terjadi karena media tempat jurnalis tersebut bekerja dibangun dengan modal yang pas-pasan.

“Kita tidak bisa membayangkan saat jurnalis tersebut sakit, tidak ada biaya operasional untuk bulan berikutnya, ini terjadi pada jurnalis sebagai kontributor dan stringer,” ungkap Hendra.

Pelatihan ini juga diisi oleh Ketua Serikat Pekerja Harian Pikiran Rakyat Deny Yudiawan, Koordinator TUCC Aceh Habibi Inseun, dan Riki Yuniagara dari LBH Banda Aceh. []

JUNAIDI

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.