Thursday, February 27, 2020

Advokasi MoU Helsinki, DPR Aceh Minta Pendapat Perunding GAM

Must Read

FOTO | TNI Pasang Bendera

Prajurit TNI memasang bendera merah putih di jalanan Kota Banda Aceh, Rabu (14/8). Pemasangan bendera itu untuk menyambut HUT...

Rumah Sakit Dibom, MSF: Ini Disengaja

SUDAN -- Sebuah rumah sakit yang dikelola oleh organisasi kemanusiaan medis Médecins Sans Frontières/Dokter Lintas Batas (MSF) menjadi sasaran...

Kyrgystan Taklukkan Brunei, 4-0

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Tim nasional (Timnas) Kyrgystan berhasil mengalahkan timnas Brunei Darussalam dengan skor 4-0 dalam lanjutan...

FOTO | Kebakaran di Simpang Ardath

Petugas pemadam kebakaran mengamankan tabung gas dari ruko yang terbakar di kawasan Simpang Ardath, Gampong Meunasah Mesjid, Kecamatan Muara...

Tim Kajian dan Advokasi MoU Helsinki dan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh (UUPA), mengumpulkan mantan anggota Tim Perunding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk dimintai pendapatnya, setelah 14 tahun damai Aceh.

Pertemuan membahas beberapa hal penting yang belum terealisasi sampai kini, sebagai amanah perdamaian. Mereka yang Hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Bakhtiar Abdullah, M. Nur Djuli, Nurdin Abdurahman, Munawar Liza Zainal, Shadia Marhaban dan Teuku Hadi, berlangsung di Banda Aceh, Senin (8/10).

Tim Kajian dan Advokasi MoU Helsinki dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, untuk mengkaji tingkat implementasi maupun implikasi dari MoU Helsinki dan UUPA selama 14 tahun berakhirnya konflik antara Pemerintah Indonesia dan GAM di Aceh. Tim tersebut dipimpin oleh Teuku Kamaruzzaman, beranggotakan sejumlah akademisi.

Pertemuan digunakan sepenuhnya untuk untuk mendengar dan mendapat masukan dari pada perunding di Helsinki, Finlandia, sehingga tercapainya damai Aceh pada 15 Agustus 2006 silam.

Sala seorang mantan juru runding GAM, Bakhtiar Abdullah menyatakan penghargaan yang tinggi atas kesediaan tim tersebut berjumpa dengan mereka. “Kita selalu membuka diri untuk mendiskusikan upaya-upaya advokasi MoU Helsinki,” katanya.

Menurutnya, bertahun-tahun sebelumnya tidak pernah pihak DPR Aceh mengajak mereka mendiskusikan masalah-masalah penting yang timbul dalam pelaksanaan MoU Helsinki. “Yang sering terjadi hanya karena kekeliruan dalam memahami poin-poin MoU yang tersurat dan tersirat. Ini langkah maju. Berjuang untuk Aceh itu harus bersama-sama dan melibatkan banyak pihak, terutama para ilmuan,” sebut Bakhtiar.

Tim Perunding GAM selanjutnya menyampaikan poin-poin penting yang disepakati di Helsinki dan spirit dari isi perundingan, terutama sekali berbagai poin belum diimplementasikan atau yang telah dilaksanakan tetapi tidak maksimal.

“Kami sampaikan semua apa yang telah disepakati, yang harusnya dijalankan oleh para pihak. Banyak poin dalam MoU yang belum digali sebagai potensi untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat Aceh,” tambah Munawar Liza Zainal.

Mantan perunding GAM di Helsinki lainnya, M Nur Djuli berharap, hasil dari kajian para ahli dan akademisi ini, bisa dijadikan bahan untuk sama-sama meluruskan UUPA.  “Agar sesuai dengan poin-poin yang tercantum dalam MoU Helsinki,” ujarnya.

Di antara masalah-masalah yang menjadi topik utama pertanyaan dari anggota Tim Kajian dan Advokasi MoU Helsinki, adalah hal-hal yang masih kontroversial di Aceh. Misalnya terkait bendera dan lambang Aceh, Institusi Wali Nanggroe, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, keberadan Dana Otonomi Khusus dan sistem perpajakan. []

acehkini.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Jajan Pakai Uang Palsu, Dua Warga Aceh Ditangkap Polisi

LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.COM - Dua warga Aceh ditangkap polisi di Kota Lhokseumawe, setelah jajan makanan dan minuman dengan uang...

Diskusi Quo Vadis Rencana Investasi Aceh, Yuk!

Institute for Strategic and Policy Studies (ISPS) yang berkantor di Jakarta, bekerja sama dengan Aceh Bisnis Club (ABC) Jakarta, dan Donya Ekonomi Aceh (DEA),...

Wali Nanggroe Bertemu Dubes Uni Eropa Bahas MoU Helsinki

JAKARTA | ACEHKITA.COM - Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-haythar bertemu Duta Besar (Dubes) Uni Eropa delegasi untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Vincent Piket, membahas...

Daftar Nama 22 Petugas Haji 2020 Kloter Aceh yang Lolos Seleksi

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh mengumumkan 22 nama calon petugas haji Aceh yang lulus dalam seleksi petugas haji...

Busana Rumoh Syar’i di Aceh Wedding Expo 2020 Dapat Pujian dari Ketua DWP

Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Setda Aceh, Safrida Yuliani, memuji keindahan busana muslim hasil karya Rumoh Syar'i. Ia terpukau menyaksikan peragaan model yang mengenakan...

More Articles Like This