17 Tahun Acehkita.com: Suluh Masa Konflik Hingga Tuduhan Media Corong

0
311
17 tahun acehkita

Ketika mesin perang Jakarta dikerahkan untuk menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat status Darurat Militer digelar di seluruh wilayah Aceh tahun 2003, masyarakat kecil ikut-ikutan menjadi korban. Beruntung, suara mereka masih sempat terdengar berkat media online acehkita.com.

Hari ini, tepat 17 tahun yang lalu, media online acehkita.com mulai melayani publik pembaca sebagai media online alternatif, dan akan terus eksis hingga waktu yang belum ditentukan. Situs berita ini hadir di jagat media pada 19 Juli 2003 atas inisiatif empat tokoh, Risman A. Rachman (mantan Direktur Koalisi NGO HAM Aceh), Dandhy Dwi Laksono (mantan Produser Liputan6 SCTV), Smita Notosusanto (Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform – Cetro), dan J Kamal Farza (Koordinator Solidaritas Aksi Masyarakat Anti-korupsi – SAMAK).

Dua bulan pelaksanaan operasi militer, pemberitaan media fokus pada kontak senjata antara TNI/Polri versus GAM, jumlah korban di antara kedua belah pihak, penangkapan aktivis GAM serta berita kesuksesan operasi terpadu. Sementara masyarakat yang menjadi korban karena perang mendapatkan porsi yang cukup kecil. Suara mereka nyaris tidak terdengar.

Pemberlakuan status Darurat Militer (DM) di Aceh membuat informasi terkait Aceh begitu seksi. Media nasional berlomba-lomba mendapatkan laporan eksklusif dari Aceh. Selama beberapa bulan, isu Aceh menghiasi halaman depan koran nasional, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Beberapa koran nasional bahkan menyediakan rubrik khusus untuk liputan mereka tentang Aceh, seperti Kompas dengan tajuk “Penyelamatan Aceh”, “Perang Aceh” (Koran Tempo), dan “Operasi Terpadu” (Republika).

Tidak bisa dipungkiri bahwa narasumber militer dan pemerintah mendapatkan porsi yang lebih besar dalam pemberitaan. Sementara informasi dari GAM digunakan untuk memanas-manasi keadaan, sementara propaganda atau berita yang menguntungkan GAM secara politik dilarang. Ini sejalan dengan permintaan penguasa darurat agar media bersikap nasionalistik dan patriotik, medium perekat nasionalisme Indonesia. Untuk tujuan itu, beberapa wartawan diberikan latihan secara khusus oleh TNI dalam bentuk embedded journalist.

Model pemberitaan media mainstream tersebut membuat mereka gerah. Belum lagi banyak media ‘terangsang’ dengan model jurnalisme perang, bahkan saat upaya damai sedang digagas. Seorang praktisi media dalam sebuah diskusi di Jakarta, sampai menyimpulkan, “perang sudah duluan terjadi di media bahkan jauh sebelum pemerintah mengumumkan perang secara resmi.”

Menurut Dandhy, alasan acehkita.com lahir juga tidak terlepas dari ketidakpekaan media mainstream kepada korban. Media mainstream saat itu, jelasnya, telah gagal memberikan informasi yang jujur tentang kondisi di lapangan. Para wartawan yang meliput begitu takut dengan tekanan dari tentara selaku pelaksana operasi. Kehadiran acehkita diharapkan mampu menyuarakan suara mereka yang tidak mampu bersuara, yaitu masyarakat yang tidak ada sangkut-pautnya dengan perang.

Sebagai pembaca, saya masih ingat bagaimana pendekatan pemberitaan yang digunakan oleh acehkita, yaitu memberikan porsi yang lebih besar kepada masyarakat Aceh yang kerap menjadi korban. Melalui pendekatan seperti itu, objektivitas dan kebenaran suatu berita lebih dapat dipercaya kebenarannya ketimbang dari sumber dominan (militer). Hal itu seakan menegaskan motto yang mereka usung sejak awal, yaitu informasi yang lebih jujur.

Kala itu, keberadaan acehkita benar-benar menjadi suluh bagi publik yang menginginkan informasi dengan sudut pandang berbeda. Berita-berita yang disajikan acehkita mampu memberikan perspektif lain tentang Aceh, karena mereka lebih banyak memberi porsi kepada masyarakat kecil yang mengalami dampak langsung konflik. Walhasil, berita-berita yang muncul di acehkita sangat jauh berbeda dengan berita yang kita baca sehari-hari dari media umum.

Melalui acehkita, publik menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, penderitaan masyarakat kecil karena perang, serta apa keinginan mereka. Diakui atau tidak, acehkita bertindak menjadi media yang mengadvokasi isu Aceh, mengambil peran yang juga dilakukan aktivis LSM kala itu. Pemberitaan acehkita bahkan menjadi rujukan terpercaya untuk mengetahui kondisi Aceh yang begitu tertutup bagi dunia luar.

Dalam salah satu tulisan, saya pernah menulis bahwa acehkita tidak hanya membebaskan Aceh yang tertutup bagi dunia luar selama pemberlakuan DM, melainkan juga membebaskan para jurnalis di Aceh yang sering bertengkar dengan nuraninya. Perintah penguasa darurat agar jurnalis bersikap patriotik tentu saja menghalanginya untuk menulis berita secara jujur seperti yang dilihat dan diliputnya di lapangan. Jika ia mengingkari itu, ada risiko yang harus dibayar: mulai dipanggil menghadap penguasa darurat hingga penghilangan nyawa.

Tahu dengan dilema itu, acehkita menerapkan sistem penggunaan nama samaran bagi wartawannya di lapangan. Apalagi wartawan acehkita rata-rata bekerja untuk media/koran lain, dan wajah-wajah mereka sudah sangat familiar di kalangan pejabat militer. Penggunaan nama samaran itu memberi kenyamanan bagi mereka untuk menulis berita berdasarkan fakta di lapangan. Tidak cuma itu, acehkita menyelamatkan mereka yang kerap ‘gusar’ dengan redaktur media tempat mereka bekerja. Soalnya, berita-berita yang mereka kirimkan kerap mengalami sensor dari redakturnya, sehingga berita yang dimuat jadi berbeda secara substansial.

Keberanian acehkita itu kerap melahirkan tuduhan dan tudingan sebagai media partisan, jika berita yang dimuat terlalu membela satu kelompok dan menyudutkan kelompok lain. TNI, misalnya, kerap membuat tuduhan bahwa acehkita sebagai corong propaganda GAM. Sementara pihak GAM merasa beberapa pemberitaan acehkita menyudutkan mereka. Sebuah dilema menjadi media yang fokus pada liputan konflik. Beruntung, acehkita mampu melalui semua itu sebagai suluh bagi orang-orang yang haus akan informasi yang lebih jujur.

Kini, acehkita.com yang hari ini (19 Juli 2020) genap berusia 17 tahun, tentu saja dalam melayani publik tidak selalu berjalan dengan mulus. Ada banyak kerikil tajam yang mewarnai perjalanan media ini. Konflik internal yang terjadi setelah Aceh dilanda tsunami hampir membuat media ini menjadi almarhum. Perebutan pengaruh antara para board yayasan dengan punggawa redaksi, memang tidak lantas membuat acehkita mati, tapi selepas badai itu acehkita tidak pernah kembali seperti semula.

Sepanjang ingatan saya, selepas konfik internal tersebut, domain acehkita pernah terbelah menjadi dua: dotnet dan dotcom. Yang satu dikelola oleh kubu para board, dan satunya lagi dikelola aceh para karyawan acehkita yang tergabung dalam Serikat Pekerja Acehkita (SePAK). Kondisi ini tentu saja sangat disayangkan, apalagi itu terjadi ketika aceh baru menapaki suasana damai. Acehkita yang sejak kelahirannya menyuarakan perdamaian Aceh melalui pemberitaan, justru terlilit konflik internal ketika damai bersemi di Aceh. Benarlah seperti judul salah satu tulisan di media ini: Aceh Damai, Acehkita Berkonflik.

Lalu, bagaimana acehkita.com bisa bertahan hingga hari ini yang genap 17 tahun? Jika saya diharuskan memberikan salam hormat yang tinggi hanya untuk satu orang saja, maka saya akan menyebut satu nama: Fakhrurradzie M Gade. Ketabahan, kesabaran dan kecintaannya terhadap acehkita, media yang turut melambungkan karir jurnalistiknya, membuat kita pembaca masih dapat menikmati sajian media ini hingga sekarang.

Lelaki kelahiran Keumala, Pidie itu nyaris bekerja sendirian menghidupkan media ini: mulai dari biaya operasional untuk domain dan hosting hingga meliput berita. Tugas jurnalistik itu masih dia lakukan bahkan ketika sakit menggerogotinya demikian kuat. Empat hari sebelum dipanggil oleh Allah, almarhum masih memikirkan masa depan acehkita dalam bentuk penyegaran tampilan.

Merayakan ulang tahun acehkita, saya (dan kita semua) seperti diajak untuk mengenang segala kiprah dan sepak terjang almarhum ketika membesarkan media ini. Alfatihah! []

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.