15 Tahun Damai, Plt Gubernur: Perdamaian Kunci Penting Sukseskan Pembangunan Aceh

0
257
Peringatan 15 tahun Hari Damai Aceh di kompleks Meuligoe Wali Nanggroe, Sabtu 15 Agustus 2020. (Foto: Humas Setda Aceh)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Perdamaian menjadi kunci penting menyukseskan pembangunan Aceh. Hal itu dikatakan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah saat menghadiri peringatan 15 tahun perdamaian Aceh atau lebih dikenal sebagai MoU Helsinki, yang dipusatkan di Meuligoe Wali Nanggroe, Sabtu (15/8/2020).

“Saya yakin, sebagai masyarakat Aceh kita telah banyak mengambil pelajaran dan pengalaman dalam perjalanan sejarah Aceh. Karenanya, sangatlah patut jika masa lalu itu menjadi cermin untuk membangun Aceh yang lebih baik,” kata Nova, dalam siaran pers dari Humas Setda Aceh.

Nova menyebut tidak ada cara yang lebih baik dalam merawat damai melainkan dengan menumbuhkan rasa cinta, kepedulian, persatuan dan kebersamaan. Sejak perjanjian perdamaian ditandatangani 15 tahun lalu, ujar dia pada prinsipnya masyarakat Aceh harus terus berjuang bahu membahu merawat damai dengan cara mencegah perseteruan dan perselisihan.

Nova menyadari, dalam perjalanan 15 tahun damai Aceh, banyak permasalahan yang harus dihadapi baik internal maupun eksternal. Sebagai masyarakat yang kaya dengan kearifan lokal, tentu permasalahan-permasalahan yang bersifat internal mesti diselesaikan secara bijaksana. Sementara secara eksternal, permasalahan-permasalahan seperti butir-butir dalam MoU dan UUPA yang belum seluruhnya dapat diimplementasikan, mesti disuarakan bersama-sama secara bijak, terpola, penuh diplomasi dan negosiasi.

Nova mengatakan, perdamaian Aceh adalah nikmat Allah SWT terbesar yang wajib disyukuri. Momentum damai Aceh yang diawali dengan penandatanganan perjanjian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki-Finlandia 15 tahun silam merupakan perjuangan yang sangat melelahkan. Bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat Aceh dan sekaligus menjadi fondasi dalam rangka menggapai kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Karena itu, Nova berterimakasih kepada seluruh tokoh perdamaian Aceh, Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan seluruh jajaran, para ulama serta unsur-unsur terkait lannya atas dedikasi dan pengorbanan selama ini dalam mengawal secara intensif keberlangsungan jalannya perdamaian Aceh selama 15 tahun.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Aceh kami menyampaikan apresiasi, semoga Allah membalas semua jasa baik ini,” sebutnya.

Sementara itu, Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) Said Fahrurrazi, menyatakan 15 tahun perdamaian harus dimanfaatkan bersama untuk membangun masa depan Aceh yang lebih baik. Sebagai pelaksana kegiatan perdamaian, pihaknya berharap seluruh masyarakat ikut membangun perdamaian ini.

Perdamaian, Covid-19, dan Pekerja Migran

Atas nama pribadi dan pimpinan BRA, Said mengapresiasi Pemerintah Aceh yang telah merealisasikan beberapa butir-butir komitmen MoU Helsinki. Di antara yang telah dilakukan oleh Pemerintah Aceh adalah penyediaan layan bagi mantan kombatan GAM serta Tapol-Napol dan masyarakat imbas konflik. Pada peringatan 15 tahun damai, sebanyak 427 masyarakat akan diberikan lahan untuk bercocok tanam. Seremonial diberikan kepada 3 mantan kombatan.

Selain itu, Pemerintah Aceh juga telah mengeluarkan Peraturan Gubernur No.330/1209/2020 Tentang Penetapan Penerima Reparasi Mendesak Hak Korban Kepada Korban Pelanggaran HAM. Sampai saat ini, Said melaporkan bahwa BRA telah mendapatkan data 250 masyarakat yang bakal menerima reparasi tersebut.

“Semoga semua masyarakat yang terdampak bisa mendapatkan hal yang serupa. Apresiasi kami kepada pemerintah Aceh yang telah mengupayakan perwujudan butir-butir MoU ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Said berharap pada momentum 15 tahun damai Aceh, pembangunan museum perdamaian Aceh bisa diwujudkan.

Menjawab hal itu, Plt Gubernur Nova Iriansyah menyebutkan dirinya mendukung sepenuhnya rencana pembangunan Museum Perdamaian Aceh. “Kami berharap agar museum itu nantinya benar-benar akan menjadi pusat studi dan pembelajaran serta wahana melihat masa lalu untuk melangkah maju ke masa depan,” kata Nova.

Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud al-Haytar, berterimakasih kepada jutaan masyarakat Aceh yang telah bersabar menanti dalam menanti perwujudan dari seluruh butir-butir MoU Helsinki. Ia yakin dengan komitmen menjaga perdamaian, seluruh isi dari poin perdamaian itu akan terwujud.

Awal tahun lalu, ujar Malik, pihaknya sudah menjumpai Presiden Joko Widodo yang di antaranya membahas perwujudan butir-butir MoU Helsinki. Respon Presiden Jokowi, kata Wali Nanggroe sangat baik. Namun sayang wabah Covid-19 membuat titik fokus pembahasan MoU terkendala.

“Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi pemerintah pusat bisa mewujudkan seluruh butir-butir MoU Helsinki,” kata Malik Mahmud.

Karena di tengah suasana pandemi Covid-19, peringatan 15 tahun damai Aceh dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. Di mana para tamu undangan datang memakai masker dan face shield. Kegiatan tersebut dihadiri seluruh pimpinan Forkopimda Aceh, Ketua KPA Muzakir Manaf, seluruh pimpinan SKPA dan ratusan masyarakat Aceh.

Peringatan 15 tahun Hari Damai Aceh di kompleks Meuligoe Wali Nanggroe sempat diwarnai kericuhan. Pemicunya, diduga karena sejumlah orang yang memaksa menaikkan bendera Bintang Bulan begitu seremonial di dalam gedung Meuligoe Wali Nanggroe selesai.[]

Peringatan 15 Tahun Damai Aceh di Meuligoe Wali Nanggroe Ricuh

ACEHKITA.COM menerima bantuan dana dari Google News Initiative (GNI) melalui program Journalism Emergency Relief (JER) Fund sebesar US$5.000

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.