Tuesday, May 26, 2020

10 Juta, Denda Adat Bagi Perusak Lingkungan di Pining

Must Read

Pidana Cambuk di Aceh Melemah

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM --Pidana cambuk sebagai pidana badan (corporal punishment) yang berlangsung di Aceh, sepertinya sedang melemah atau...

Anak Aceh Wakili Indonesia ke Polandia

JAKARTA -- Pemain sepak bola anak asal Aceh, Sekolah Sepak Bola (SSB) Putra Muara Cunda, Lhokseumawe, akhirnya mewakili Indonesia...

Enam Pengajar Muda Ditempatkan di Aceh Utara

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Sebanyak enam pengajar muda ditempatkan di enam Sekolah Dasar di Kabupaten Aceh Utara. Aceh...

Tabungan Amal Masjid untuk Padang

BIREUEN | ACEHKITA.COM -- Untuk meringankan penderitaan korban gempa di Sumatera Barat, seluruh masjid di Kabupaten Bireuen mengumpulkan tabungan...

GAYO LUES | ACEHKITA.COM – Masyarakat Pining, Gayo Lues, membuat peraturan adat yang menghukum perusak lingkungan berupa kawasan hutan, sungai, serta sumber daya alam lainnya dengan denda maksimal Rp10 juta pada setiap pelaku.

“Dalam aturan itu, ada saksi bagi perusak lingkungan seperti peracuran ikan, pengeboman, penyetruman, dan lainnya. Dendanya minimal Rp1 juta dan maksimal Rp10 juta per orang,” kata Badrul Irfan Sekjen Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HaKA), Kamis (27/4).

Selain sanksi, peraturan tersebut juga mengatur kearifan local lainnya seperti padang pengembalaan atau bahasa setempat disebut Blang Peruweren. Kemudian, ada kawasan hutan kampung atau Bur Pruteman, kawasan sumber air masyarakat atau Aih Aunen. Dan kawasan-kawasan tersebut diperuntukan sesuai untuk kebutuhan masyarakat.

Peraturan bersama tersebut ditandatangani sembilan penghulu (kepala kampung) di Kecamatan Pining, yakni: Kampung Ekan, Kampung Uring, Kampung Gajah, Kampung Lesten, Kampung Pertik, Kampung Pining, Kampung Pepelah, Kampung Pintu Rime, serta Kampung Pasir Putih.

Selain dihadiri penghulu atau kepala kampung, musyawarah tersebut unsur pimpinan kecamatan, mukim, serta para tokoh masyarakat setempat.

Denda tersebut tertuang dalam peraturan bersama masyarakat yang disahkan dan ditetapkan dalam musyarawah yang difasilitasi Yayasan (HaKA) di Pining, Gayo Lues, Kamis (27/4).

Menurut Badrul Irfan, peraturan adat yang dikeluarkan masyarakat Pining, Gayo Lues ini, merupakan peraturan bersama yang patut ditiru di tempat lainnya guna memastikan kelestatian hutan dan sumber daya alam di sekitar mereka. “Kami yakin aturan yang dibuat ini juga akan diawasi oleh masyarakat setempat secara ketat.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

TERBARU

Soal Larangan Mudik, Kankemenag Kabupaten/Kota se-Aceh Diminta Pantau ASN

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pelaksana Tugas Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Djulaidi, kembali mempertegas larangan mudik...

17 Tahun Darurat Militer Aceh: Merawat Ingatan Kolektif Dampak Kekerasan

KontraS Aceh menggelar diskusi publik via online Zoom Meeting, Selasa (19/5/2020). Pertemuan ini menguak pengalaman dari sudut pandang pembicara, yakni; Faisal Hadi (Manajer Program...

Update Corona 14 Mei: Kasus Positif Covid-19 di Aceh Tak Bertambah dalam Sepekan Terakhir

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Kasus positif terinfeksi virus Corona di Aceh tidak ada penambahan kasus baru dalam sepekan terakahir. Kasus positif Covid-19 terakhir...

Pasien Sembuh dari Covid-19 di Aceh Bertambah Jadi 12 Orang

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Pasien positif Covid-19 asal Bener Meriah berinisial BD (24), dinyatakan telah sembuh. Santri dari Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan,...

KONI Aceh Serahkan Bonus untuk Atlet Peraih Medali Pra-PON, Porwil dan SEA Games

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM - Komite Olahraga Nasiona Indonesia (KONI) Aceh menyerahkan bonus uang tunai kepada para atlet dan pelatih peraih medali di ajang...

More Articles Like This